Pemerintah Lelang 12 Surat Utang-Tarik Pinjaman US$1,8 M Akhir 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto mengungkapkan, pemerintah masih memiliki ruang untuk melelang 12 surat utang pada kuartal IV-2026.
Surat utang yang dilelang itu dilakukan untuk memenuhi target pembiayaan utang untuk menambal defisit APBN 2026 yang diperkirakan mencapai Rp 734,3 triliun atau setara 2,68%, membengkak dibanding target awal 2,68% PDB atau Rp 689,1 triliun.
"Pembiayaan utang saat ini untuk memenuhi APBN defisit 2,8% PDB. Maka untuk memenuhi sisa kebutuhan pembiayaan pada Q4-2026, beberapa issuance masih kita lakukan," kata Suminto saat konferensi pers di kantor pusat Kemenkeu, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Suminto mengatakan, 12 lelang surat utang yang telah terjadwal itu terdiri dari lelang 6 SBN reguler yang dilakukan setiap Selasa, dan lelang sukuk atau SBN Syariah sebanyak 6 kali.
Lalu, pemerintah kata dia juga masih terjadwal untuk menerbitkan SBN ritel yakni SBR015 dan ST017.
Selain itu, terdapat potensi penarikan pinjaman program bilateral dan multilateral sebesar US$ 1,8 miliar.
"Kami juga masih memiliki potensi menarikan pinjaman bilateral dan multilateral, siap ditarik Q4-2026," tegasnya.
Adapaun untuk SBN berdenominasi valas atau yang kerap dikenal dengan global bond, pemerintah kata Suminto juga masih memiliki ruang dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar keuangan global yang saat ini sangat dinamis.
"Penerbitan SBN Valas, kami open minded dengan melihat kondisi pasar keuangan global yang saat ini memang sangat dinamis," paparnya.
Adapun hingga September 2026, utang neto pemerintah telah terealisasi Rp 494,3 triliun (59,4% dari target), yang terdiri dari SBN neto Rp 497,5 triliun dan Pinjaman neto negatif Rp 3,2 triliun.
Penerbitan SBN melalui lelang terjaga kinerjanya, dengan bid to cover ratio mencapai 1,87 kali untuk SUN, dan 2,52 kali untuk SBSN.
Partisipasi Asing pada lelang SBN juga menurut Suminto cukup baik hingga akhir September 2026, dengan bid to cover ratio 1,9 kali untuk SUN dan 3,1 kali untuk SBSN.
Partisipasi Asing di pasar primer maupun sekunder yang cukup aktif mendukung capital inflow pada pasar SBN sebesar Rp 36,7 triliun (YTD, 7 Oktober).
Penerbitan SBN ritel totalnya sudah sebesar Rp124,32 triliun, terdiri dari 2 seri SUN sebesar Rp 54,44 triliun dan 3 seri SBSN sebesar Rp 69,88 triliun.
Penerbitan SBN valas sebanyak 6 transaksi dalam 4 mata uang (USD, EUR, JPY, Remimbi) total setara US$ 14,76 miliar dengan permintaan yang kuat tercermin dari bid to cover ratio 2,4 kali.
Dukungan investor institusi domestik juga cukup kuat. Hingga September, asuransi dan dana pensiun melakukan pembelian SBN neto sebesar Rp137,4 T (tumbuh 10,6%), sementara lembaga lainnya Rp100,6 T (tumbuh 15,5%).
Adapun untuk yield SUN seri benchmark tenor 10 tahun pada 7 Oktober di level 7,17% memiliki spread terhadap UST 10 tahun sebesar 188 bps, lebih rendah dibandingkan Emerging Markets lainnya, seperti India (196 bps), Filipina (240 bps), Afrika Selatan (379 bps), Meksiko (409 bps), dan Brasil (765 bps).
Hingga September, juga telah dilakukan penarikan pinjaman program bilateral dan multilateral sebesar setara US$ 2,87 miliar.
(arj/arj)