MARKET DATA

Imbas Tekanan Saham AI Amerika, Bursa Asia Bervariasi

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
09 October 2026 08:32
Papan elektronik menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan, di ruang transaksi sebuah bank, di Seoul, Korea Selatan, 7 April 2025. Yonhap/via REUTERS
Foto: via REUTERS/Yonhap News Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,76%, sedangkan indeks Topix bergerak relatif stagnan. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,37%.

Melansir CNBC Internasional, pergerakan bursa Asia terjadi setelah saham-saham teknologi Amerika Serikat (AS) tertekan pada perdagangan Kamis, menyusul kekhawatiran investor terhadap prospek perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Indeks Nasdaq Composite turun lebih dari 1% dan mencatatkan penurunan harian terbesar sejak pertengahan Agustus.

Penurunan saham teknologi turut menyeret indeks S&P 500 melemah 0,5%, sekaligus memperpanjang koreksi untuk hari kedua berturut-turut. Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average yang terdiri dari 30 saham unggulan berhasil bergerak berlawanan arah dengan mengakhiri perdagangan sedikit di atas level stagnan.


Tekanan terhadap saham AI muncul setelah CNBC mengonfirmasi bahwa OpenAI menyampaikan kepada para investornya bahwa perusahaan tersebut membukukan pendapatan tahunan berdasarkan laju pendapatan terkini (annualized revenue) sebesar US$50 miliar pada akhir September. Angka US$68 miliar sebelumnya ramai diberitakan pada bulan lalu, tetapi seseorang yang mengetahui persoalan tersebut menyebut angka itu juga mencakup pendapatan bruto dari mitra.

Kabar tersebut memicu tekanan terhadap sejumlah saham perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan infrastruktur AI. Saham CoreWeave anjlok lebih dari 7%, sedangkan Oracle, Intel, dan Super Micro Computer masing-masing turun sekitar 5%.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi hampir 4%, sementara Nvidia melemah hampir 3%. Aksi jual tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek saham-saham AI setelah munculnya informasi terbaru mengenai pendapatan OpenAI.

Kepala Strategi Pasar Man Group Kristina Hooper memperingatkan bahwa tekanan yang berlanjut dapat memicu aksi jual yang lebih luas pada saham-saham terkait AI. Berbicara dalam program CNBC Closing Bell: Overtime, Hooper mengatakan bahwa jika kondisi seperti ini berlangsung selama beberapa hari, pasar berpotensi mengalami aksi jual besar-besaran yang dapat mengikis kepercayaan investor.

Di tengah tekanan saham teknologi, SpaceX justru mencatatkan kenaikan sekitar 2% dalam perdagangan setelah penutupan pasar (extended trading). Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan roket itu mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi portofolio spektrum frekuensi berskala nasional.

Sebaliknya, saham AT&T, Verizon, dan T-Mobile melemah setelah kesepakatan SpaceX tersebut memunculkan kekhawatiran investor mengenai potensi peningkatan persaingan di industri telekomunikasi. Perkembangan ini menjadi perhatian pasar karena ekspansi SpaceX ke portofolio spektrum dapat memengaruhi dinamika persaingan di sektor tersebut.

Secara mingguan, indeks Dow Jones dan Nasdaq Composite bergerak relatif datar hingga perdagangan Kamis. Sementara itu, indeks S&P 500 berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan sekitar 0,6% sepanjang pekan ini.

Pada perdagangan Jumat, investor akan mencermati laporan kinerja keuangan Delta Air Lines yang dijadwalkan dirilis sebelum pembukaan pasar AS. Selain itu, data sentimen konsumen AS untuk Oktober juga akan menjadi perhatian pelaku pasar pada pagi hari waktu setempat.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Berguguran, Harga Minyak Melonjak Jelang Keputusan The Fed


Most Popular
Features