Rupiah Dibuka Menguat, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.820

Elaine Tairio, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 09:18 WIB
Foto: Pengunjung menukar uang di tempat penukaran uang di Money Changer Ayu Masagung kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan rupiah berlanjut pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026). Mata uang Garuda kembali terapresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sehari sebelumnya ditutup di zona hijau.

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.820/US$, menguat sekitar 0,39% dibandingkan penutupan Selasa (6/10/2026) di Rp17.890/US$.


Pada perdagangan sebelumnya, rupiah mengakhiri sesi dengan apresiasi tipis 0,03% di level Rp17.890/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,17% ke posisi 102,005.

Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada cadangan devisa Indonesia periode September yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia (BI) pada pukul 10.00 WIB.

Pada Agustus, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,5 miliar, meningkat US$1,2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Pasar akan mencermati posisi cadangan devisa terbaru sebagai gambaran kekuatan eksternal Indonesia di tengah volatilitas global. Data ini juga penting bagi rupiah karena menjadi salah satu penopang kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Sentimen positif lainnya datang dari Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7% pada April.

Revisi tersebut ditopang kinerja ekonomi Indonesia pada semester pertama, ketika pertumbuhan mencapai 5,4% seiring menguatnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Perbaikan proyeksi pertumbuhan dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kendati demikian, Bank Dunia juga menyoroti adanya tanda perlambatan aktivitas domestik setelah semester pertama serta risiko yang masih berasal dari kondisi fiskal.

Dari eksternal, pasar mencermati neraca perdagangan Amerika Serikat yang mencatat defisit lebih lebar pada Agustus.

Defisit perdagangan AS mencapai US$105,6 miliar, membengkak dari US92,8miliarpadaJulidanmelampauikonsensuspasarsebesarUS102 miliar. Angka tersebut sekaligus menjadi defisit perdagangan terbesar sejak Maret 2025.

Pelebaran defisit terjadi setelah impor meningkat US$17,2 miliar menjadi rekor US$420,8 miliar, sementara ekspor bertambah US4,5miliarmenjadiUS315,2 miliar.

Meski defisit melebar, kenaikan impor tidak sepenuhnya menunjukkan pelemahan ekonomi AS. Peningkatan pembelian barang modal turut menunjukkan aktivitas investasi masih berjalan, sehingga data tersebut memberi gambaran yang beragam mengenai kondisi ekonomi AS di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Optimalkan Bauran Kebijakan