MARKET DATA

Rupiah Menguat Lagi, Dolar AS Kini Turun ke Level Rp17.855

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
08 October 2026 09:17
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah masih mempertahankan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (8/10/2026). Mata uang Garuda kembali terapresiasi setelah mencatat penguatan dalam dua perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.855/US$, menguat 0,11% dibandingkan penutupan Rabu (7/10/2026) di Rp17.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 102,178.

Pergerakan rupiah hari ini turut dipengaruhi sejumlah sentimen domestik dan global.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 oleh Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pukul 10.00 WIB hari ini. Pada Agustus, IKK tercatat sebesar 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli. Kenaikan tersebut menunjukkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi masih terjaga, dengan indeks bertahan di atas level 100.

Data terbaru akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah keyakinan konsumen kembali meningkat pada September. Perkembangan indeks tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai prospek konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari eksternal, pelaku pasar mencermati hasil risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dirilis Kamis (8/10/2026) dini hari WIB.

Risalah tersebut menunjukkan mayoritas pejabat The Federal Reserve (The Fed) memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026, seiring inflasi AS yang masih berada di atas target 2%.

Dalam pertemuan September, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.

Berdasarkan proyeksi suku bunga yang dirilis pada September, sebanyak 16 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan masih ada satu kenaikan suku bunga tahun ini, tetapi tidak memperkirakan kenaikan lanjutan pada 2027. Meski demikian, belum ada kepastian apakah kenaikan berikutnya akan dilakukan pada pertemuan Oktober atau Desember.

"Dalam mempertimbangkan prospek kebijakan moneter setelah rapat saat ini, sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan kembali kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun," sebagaimana tertuang dalam risalah pertemuan FOMC.

Meski demikian, The Fed menekankan bahwa keputusan kebijakan moneter selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan keseimbangan risiko.
Prospek kenaikan suku bunga AS lebih lanjut berpotensi menopang dolar AS dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Namun, dolar AS terpantau melemah pada perdagangan pagi ini, sehingga tekanan terhadap rupiah dari sisi penguatan greenback relatif mereda.



(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Melemah Lagi, Dolar AS Kini Naik Jadi Rp 17.950


Most Popular
Features