Bursa Asia Variatif, Investor Cermati Imbal Hasil US Treasury

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 08:45 WIB
Foto: Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang perdagangan sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, 3 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Rabu, (7/10/2026). Pergerakan ini berbanding terbalik dengan Wall Street seiring dengan perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Indeks Nikkei 225 Jepang cenderung datar, sementara Kospi Korea Selatan turun 0,57%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga melemah 0,13%.


Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield surat utang AS mengambil jeda dari tren kenaikan yang berlangsung sejak akhir Februari, bertepatan dengan dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Yield Treasury AS sebelumnya terus meningkat di tengah tekanan geopolitik dan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 5,286% setelah pada Senin mencapai level tertinggi sejak April 2002. Sementara itu, yield Treasury tenor 30 tahun berada di kisaran 5,661%, sedangkan yield tenor 2 tahun turun menjadi 4,798%.

Meski mendapat jeda, investor pada Selasa memperingatkan adanya penurunan permintaan asing terhadap surat utang AS di tengah tekanan geopolitik. Investor Ray Dalio mengatakan kepada Bloomberg bahwa China tidak ingin terus menambah kepemilikannya atas surat utang AS.

Menurut Dalio, hubungan antara debitur dan kreditur menjadi sangat sulit ketika kedua pihak juga berada dalam hubungan yang berlawanan secara geopolitik. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena China merupakan salah satu pemegang utama surat utang pemerintah AS.

Sementara itu, harga energi bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa sehingga turut memberikan dukungan terhadap penguatan pasar saham. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent, yang menjadi acuan global, masing-masing ditutup naik kurang dari 1% dalam perdagangan harian.

Investor juga menanti risalah pertemuan terakhir Federal Reserve pada September yang akan dirilis pada Rabu. The Fed pada pertemuan tersebut menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023, sehingga risalah akan menjadi perhatian pasar untuk melihat pandangan para pembuat kebijakan mengenai kondisi ekonomi AS.

Risalah tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai pertimbangan para pejabat The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter. Investor akan mencermati pandangan mengenai kondisi ekonomi serta faktor yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga selanjutnya.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: US Treasury Tembus Rekor Tertinggi, Ini Efeknya ke Rupiah