Dipimpin Nikkei, Bursa Asia Berbalik Hijau Hari Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026), dengan mayoritas indeks utama mencatat kenaikan lebih dari 1%.
Melansir CNBC, Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,4%, sedangkan indeks Topix menguat 0,6%.
Di Korea Selatan, indeks acuan Kospi dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq masing-masing naik lebih dari 1%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak sedikit lebih tinggi.
Pergerakan bursa Asia terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 30 tahun menembus level 5,6% pada Selasa (29/9/2026), menjadi level tertinggi sejak Juni 2002. Imbal hasil Treasury 10 tahun juga mencapai level tertinggi sejak 2007, mendekati 5,3%.
Kenaikan imbal hasil tersebut menekan pasar saham Amerika Serikat, dengan Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 100 poin. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq Composite melemah 0,1%.
Tekanan terhadap pasar saham terjadi meski harga minyak mentah turun pada perdagangan Selasa. Jose Torres, Senior Economist Interactive Brokers, mengatakan pasar saham masih berusaha bertahan, tetapi kondisi keuangan yang lebih ketat mulai memperkuat tekanan bearish dan meningkatkan minat terhadap instrumen lindung nilai dari penurunan pasar.
Di sisi lain, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral untuk sementara waktu. Williams mengatakan pada Selasa malam bahwa tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru dan The Fed memiliki waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum pertemuan pada Oktober.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan sebesar 49%. Angka tersebut turun dari 71% pada Senin (28/9/2026).
Selanjutnya, perhatian investor pada Rabu tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Agustus, yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan Federal Reserve. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan indeks tersebut naik 0,3% secara bulanan, dengan laju tahunan mencapai 3,7%.
Perdagangan Rabu juga menjadi hari terakhir September sekaligus penutupan kuartal III-2026. Kinerja pasar saham Amerika Serikat tercatat beragam, dengan S&P 500 dan Dow Jones diproyeksikan membukukan penurunan sepanjang September, sementara Nasdaq menguat lebih dari 1%.
Untuk kinerja kuartal III-2026, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat sekitar 2%. Sebaliknya, Dow Jones tercatat melemah hampir 2% sepanjang kuartal tersebut.
(ayh/ayh)