Rupiah Makin Terseok-seok, Cerita Dolar Balik Rp16.000 Mustahil

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Rabu, 30/09/2026 07:25 WIB
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah (CNBC Indonesia/ Edward Ricardo)

Jakarta, CNBC Indonesia-Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar. Perlahan namun pasti, dolar Amerika Serikat (AS) kini sudah bertengger lagi pada level Rp18.000.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan melemahnya rupiah disebabkan oleh kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Di samping itu, harga minyak naik hingga di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.


"Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga _yield_ UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23%, tertinggi sejak 2007," ungkapnya dalam keterangan tertulis.

Pelemahan rupiah juga didorong oleh peningkatan kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir kuartal III-2026. "Arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujarnya.

Meski demikian, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67%. Cadangan devisa tercatat meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

BI, kata Erwin terus hadir di pasar memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.

"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market," terang Erwin.

Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dan kecukupan likuiditas dijaga dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri.

"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif."

Outlook Rupiah

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan rupiah berpeluang besar menembus level Rp 18.200-an per dolar Amerika Serikat (AS) jika tekanan global masih cukup kuat.

"Rupiah masih bisa menuju Rp 18.200/US$, meski hal tersebut diperlakukan sebagai skenario tekanan. Karena dari Rp 18.000 ke Rp 18.200 hanya sekitar 1% ebih lemah, sehingga level tersebut dapat tersentuh, jika tekanan global masih menghantui," kata Josua kepada CNBC Indonesia.

Adapun menurutnya, ada tiga hal yang dapat membuat rupiah makin melemah. Pertama yakni harga minyak global yang masih bertahan di level US$ 100 per barel, dan imbal hasil (yield), obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bertahan di atas 5%, dan adanya outflow investor asing.

"Ada 3 kondisi yang jika terjadi bersamaan, pelemahan rupiah bisa semakin dalam, yakni harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel, yield obligasi AS tenor 10 tahun tetap di atas 5%, dan arus modal bergerak negatif secara bersamaan" terang Josua.

Sementara itu, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan peluang rupiah menyentuh level Rp 18.200-an per dolar AS terbuka lebar.

"Potensi rupiah menembus Rp18.200 per dolar AS terbuka dalam beberapa pekan mendatang," kata Rizal.

Apalagi, jarak dari Rp 18.000 ke Rp 18.200 sangat tipis yakni hanya 1,1%, sehingga level tersebut merupakan skenario risiko yang perlu diantisipasi.

"Potensi rupiah menembus level tersebut terbuka lebar jika penguatan dolar, arus modal keluar, dan kebutuhan valas terus berlanjut," ujar Rizal.


(chd/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD