Bank Asing Proyeksi Rupiah Bakal Segini di Akhir 2026

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Selasa, 29/09/2026 15:50 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank asing memproyeksikan rupiah bakal tetap di kisaran Rp18.000 hingga akhir tahun. PT Bank HSBC Indonesia mengatakan pelemahan mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini bukan disebabkan oleh faktor fundamental.

Chief Asia Economist, Co-head Global Investment Research Asia, HSBC, Frederic Neumann mengatakan, mata uang greenback saat ini tengah menguat. Salah satu faktor penyebabnya adalah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve yang meningkatkan suku bunga acuannya, menjadi penyokong nilai tukar dolar AS.


"Akibatnya, kita melihat dolar menguat terhadap banyak mata uang. Misalnya terhadap mata uang Jepang, Selandia Baru, dan juga Euro," tutur Neumann saat Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Hotel St. Regis, Selasa (29/9/2026).

Mengingat waktu yang tersisa hanya tiga bulan hingga akhir tahun, kata dia, posisi rupiah dapat dikatakan cenderung stabil. Neumann mengatakan rupiah mungkin sedikit melemah, tetapi tidak signifikan. Sebab, pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Hal ini lebih mencerminkan kekuatan dolar daripada kelemahan mendasar pada Rupiah.

"Jadi, jika Anda menanyakan target, angka di kisaran 18.000, misalnya, merupakan target yang masuk akal. Angka tersebut lebih mencerminkan kekuatan dolar ketimbang kelemahan Rupiah," jelas Neumann.

Ia menilai, pergerakan rupiah berpeluang meningkat tahun depan. Sebab, pada titik tertentu, dolar AS akan melemah dan rupiah kemudian akan menguat.

"Pesan utamanya adalah bahwa kondisi pelemahan khusus pada rupiah yang terjadi di awal tahun sudah tidak ada lagi. Tren pelemahan itu telah berhasil direda," tukas Neumann.

Ia menyoroti bagaimana Bank Indonesia (BI) cukup tegas menanggpi tren pelemahan rupiah awal tahun ini dengan menaikkan suku bunga secara cepat. Kebijakan ini sangat membantu meyakinkan investor mengenai stabilitas mata uang. Selain itu, pemerintah RI juga terus melangkah maju dengan berbagai reformasi pejabat-pejabat keuangan. Antara lain, perubahan kepemimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Indonesia (BI), bahkan Menteri Keuangan.

"Menurut saya, semua itu mengirimkan sinyal bahwa pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas makroekonomi, dan hal tersebut tentu turut membantu menstabilkan Rupiah," ucap Neumann.

Dalam keadaan ini, HSBC tetap mengamati hal-hal spesifik seperti suku bunga riil yang tinggi, nilai tukar mata uang yang relatif stabil, serta situasi fiskal yang terkendali.

Neumann menyebut fokusnya lebih beralih pada reformasi struktural, yakni sejauh mana Indonesia dapat mengatasi kekurangan infrastruktur, seberapa besar penekanan pada pendidikan, serta langkah-langkah terkait regulasi dan penyediaan energi.

"Tantangan makroekonomi sebenarnya sudah teratasi. Sekarang, fokusnya lebih pada aspek fundamental mikro, dan penanganan reformasi mikro inilah yang akan menjadi tahapan pertumbuhan berikutnya bagi Indonesia," papar Neumann.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Optimalkan Bauran Kebijakan