Rupiah Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.835 Pagi Ini

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Kamis, 24/09/2026 09:02 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda kembali tertekan ketika indeks dolar AS melanjutkan penguatan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan 0,022% ke posisi Rp17.835/US$. Posisi ini sekaligus membalikkan penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (23/9/2026), ketika mata uang Garuda ditutup menguat 0,31% ke level Rp17.795/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,04% ke posisi 101,132.


Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan tajam DXY sebesar 0,49% pada penutupan perdagangan Rabu kemarin. 

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Penguatan greenback menunjukkan tingginya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar sehingga mempersempit ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat ke level tertingginya dalam hampir dua bulan seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.

Sejumlah pejabat The Fed kembali membuka peluang pengetatan lanjutan apabila inflasi tidak mereda. Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral AS kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi turun.

Data ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi tersebut. Indeks PMI Komposit AS versi S&P Global naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, level tertinggi sejak Juli 2021. Kenaikan ditopang oleh lonjakan pesanan baru, tetapi kuatnya permintaan juga mendorong harga naik.

Setelah data tersebut dirilis, pasar memperhitungkan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan Oktober. Angkanya meningkat dari sekitar 53% sebelumnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) pada Rabu kemarin baru saja memutuskan untuk kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,50%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga deposit facility sebesar 4,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 6,50%," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Dengan keputusan tersebut, BI mempertahankan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun pada Juli, Agustus, dan September. BI Rate sendiri telah berada di level 5,75% sejak Juni 2026.

BI juga menyatakan akan terus memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing, menjaga stabilitas rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pembiayaan ke sektor riil serta perluasan penggunaan pembayaran digital.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Putuskan Tahan Suku Bunga Acuan 5,75% di RDG September 2026