MARKET DATA

Rupiah Berhasil Menguat, Dolar AS Parkir di Level Rp17.960

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 September 2026 15:03
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah diDolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berhasil lolos dari tekanan dan berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.960/US$ atau terapresiasi tipis 0,03%. Penguatan tersebut membalikkan pergerakan pada Senin (28/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,48% ke level Rp17.965/US$. 

Tekanan sebenarnya terjadi pada rupiah diawal perdagangan hari ini. Rupiah dibuka melemah 0,03% di posisi Rp17.970/US$, kemudian pelemahannya membesar hingga dolar AS sempat menembus Rp18.010.

Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah sepanjang perdagangan hari ini. Mata uang Garuda kemudian mampu bangkit 40 poin dari titik terlemahnya dan berakhir di zona hijau.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,14% ke posisi 101,338.

Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap rupiah masih berasal dari kombinasi sentimen global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal masih mendorong penguatan dolar AS.

Tekanan inflasi kembali meningkat ketika harga minyak naik hingga di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memperbesar perkiraan bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya.

"Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23%, tertinggi sejak 2007," ujar Erwin dalam keterangan tertulis.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III-2026. Arus keluar dana dari portofolio aset negara berkembang di tengah kenaikan imbal hasil obligasi turut menambah tekanan.

Kendati demikian, BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), pelemahan rupiah masih terbatas sebesar 0,67%.

Posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Cadangan tersebut menjadi salah satu penopang kemampuan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan memastikan rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Strategi stabilisasi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI memperkuat operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market, meningkatkan insentif bagi instrumen swap dan DNDF lindung nilai, serta memperkuat koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Berbalik Ditutup Menguat, Dolar AS Turun Tipis ke Rp17.625


Most Popular
Features