Dolar AS Tembus Rp17.830, BI Buka Suara & Ungkap Biang Keroknya!

Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
Senin, 21/09/2026 14:50 WIB
Foto: Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea memberi pemaparan dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah pada perdagangan hari ini membuat Bank Indonesia (BI) buka suara.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 13.08 WIB, mata uang Garuda telah terdepresiasi ke posisi Rp17.830/US$ atau melemah 0,56%.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap kurs rupiah itu setidaknya dipengaruhi oleh faktor eksternal.


"Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel," kata Erwin melalui keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).

Meski pemicunya dari eksternal, ia menyebut masalah itu dilihat pelaku pasar keuangan dapat memberikan efek ke dalam negeri, mulai dari meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," kata Erwin.

Di tengah situasi itu, Erwin memastikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.

BI kata dia akan melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market, serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

Selain itu, intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga akan terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

"⁠Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%. Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," tegas Erwain.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak & Inflasi AS Melonjak, Suku Bunga The Fed Naik