Dolar Nyaris Rp18.200, Purbaya: Kita Serahkan Semua ke BI Jaga Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah masih saja melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meski sinergi erat sudah terjalin antara otoritas fiskal yaitu Kementerian Keuangan dan moneter yang menjadi kewenangan Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah sempat melemah 1% dengan nilai tukar US$1 kini telah mencapai Rp18.190 dan menjadi rekor terendah baru mata uang Garuda.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa masih optimistis rupiah bisa menguat kembali dalam jangka waktu yang tidak lama. Kini dirinya fokus pada pengelolaan fiskal, sedangkan rupiah menjadi kewenangan BI.
"Nanti kita lihat seperti apa ke depan. Yang jelas kan kita harapkan rupiah bisa menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Itu aja," kata Purbaya saat ditemui wartawan di Kementerian PPN/Bappenas, Senin malam (9/6/2026).
"Kita serahkan semua ke bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar rupiah," tegasnya.
Saat ini, menurutnya, level stabilitas rupiah belum diketahui pasti. Namun, ruang penguatan rupiah masih cukup lebar.
"Karena kan ini masih kejadian awal, kita enggak tahu stabilitasnya dimana, tapi pasti enggak akan seperti ini terus terus-terusan, pasti akan memiliki stabilitas yang baru, di situlah kita akan melihat seperti apa pengawalan anggaran. Saya pikir ruang untuk penguatan masih terbuka lebar," jelasnya.
Posisi indeks dolar AS yang sempat mencapai level 100 membuat ruang penguatan rupiah, cenderung terbatas. Rupiah tidak sendiri karena hampir seluruh mata uang tertekan terhadap dolar AS.
Perdagangan kemarin, Ringgit Malaysia yang melemah 1,04% ke posisi MYR 4,067/US$. Baht Thailand juga terkoreksi 0,30% ke posisi THB 32,90/US$, disusul dong Vietnam yang melemah 0,28% ke VND 26.344/US$.
Yuan China ikut tertekan 0,26% ke posisi CNY 6,783/US$, dolar Taiwan melemah 0,15% ke TWD 31,627/US$, dolar Singapura turun 0,05% ke SGD 1,29/US$, sementara yen Jepang terkoreksi tipis 0,02% ke JPY 160,35/US$.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti memastikan pihaknya tetap berada di pasar dan siap melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.
"BI akan tetap menjaga pergerakan rupiah agar tidak berfluktuasi terlalu dalam," jelasnya kepada CNBCÂ Indonesia.
BI sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia turun US$ 1,3 miliar menjadi US$ 144,9 miliar pada Mei 2026
Ini dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik.
Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
(chd/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]