MARKET DATA

Bank Raksasa Beri Warning, 3 Kondisi Jelang Krisis 1997 Kini Muncul!

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
20 September 2026 19:45
Nah Lho! 2 Negara Ini Diramal Kena Krisis Ekonomi di 2024
Foto: Infografis/ Nah Lho! 2 Negara Ini Diramal Kena Krisis Ekonomi di 2024/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis keuangan Asia 1997 kembali menjadi perhatian, setelah ekonom HSBC melihat sejumlah kemiripan dengan kondisi pasar saat ini.

Meski demikian, kalangan ekonom bank itu menilai perbedaan fundamental ekonomi Asia sekarang lebih kuat dibandingkan era tersebut, sebagaimana dilansir CNBC International.

Berikut warning yang dikeluarkan oleh bank raksasa tersebut:

1. Yield Obligasi AS Melonjak

Kepala Ekonom HSBC Frederick Neumann menyoroti kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) sebagai kemiripan utama dengan periode menjelang krisis 1997.

"Memang, proses itu memakan waktu enam tahun," ujar Neumann dalam catatan tertanggal 31 Agustus.

Menjelang krisis 1997, yield Treasury AS tenor 10 tahun meningkat dari sekitar 5% pada Oktober 1993 menjadi 8% pada November 1994, sebelum berada di kisaran 7% pada April 1997. Saat ini, yield tenor yang sama telah naik dari titik terendah sekitar 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%, dengan kenaikan sekitar 80 basis poin sepanjang tahun dari level 3,9% pada Februari.

Departemen Keuangan AS juga berencana memperbesar operasi pembelian kembali atau buyback obligasi tenor 10 hingga 30 tahun. Batas maksimal operasi tersebut akan setidaknya digandakan dari US$2 miliar atau sekitar Rp35,49 triliun menjadi US$4 miliar atau sekitar Rp70,98 triliun.

2. Yen Jepang Kembali Tertekan

Kemiripan kedua terlihat dari pergerakan yen Jepang. Pada April 1995, yen berada di level 80 per dolar AS dan melemah menjadi 130 pada April 1997, atau terdepresiasi sekitar 55%.

Dalam periode sekarang, yen juga tercatat melemah 57% dari sekitar 103 per dolar AS pada Januari 2021 hingga mencapai 163 pada Juli, sebelum intervensi gabungan Washington dan Tokyo menguatkan mata uang tersebut ke sekitar 160. Kondisi ini membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan intervensi lanjutan.

3. Euforia Teknologi Bergeser ke AI

Kemiripan ketiga berasal dari optimisme terhadap teknologi. Jika internet menjadi sumber euforia pasar menjelang krisis 1997, Neumann melihat lonjakan industri kecerdasan buatan atau AI saat ini memiliki pola yang serupa.

Namun, Neumann menegaskan kondisi Asia saat ini berbeda secara fundamental. Pada 1990-an, sebagian besar negara Asia merupakan importir modal dan rentan terhadap kenaikan biaya pendanaan dolar AS serta volatilitas yen.

"Ekonomi Asia saat ini merupakan eksportir modal," kata Neumann. Karena itu, kenaikan biaya pendanaan AS dan pelemahan yen tidak menjadi sumber tekanan utama seperti pada era 1990-an.

Meski demikian, Asia tetap memiliki kerentanan, terutama ketergantungan terhadap permintaan perangkat keras AI di AS.

"Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," ujar Neumann, seraya memperingatkan bahwa perlambatan lonjakan AI dapat menekan ekspor elektronik Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura serta memperlambat pertumbuhan ekonomi kawasan.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama


Most Popular
Features