IHSG Mendadak Anjlok 1% Siang Ini, Ada Dua Hantu Gentayangan!
Jakarta, CNBC Indonesia — Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin dalam pada sesi 2 hari ini, Kamis (10/9/2026).
IHSG yang sempat menguat dan menembus level 6.700 berbalik arah dan menyentuh level terendah 6.590,79 atau turun lebih dari 1,2% pada sekitar pukul 14.30 WIB.Â
Sebagian besar emiten mengalami tekanan dengan 524 saham di zona merah. Hanya 160 yang bertahan di zona hijau dan sisanya atau 279 saham tidak bergerak.Â
Pasar cenderung ramai dengan tekanan jual mendominasi. Nilai transaksi mencapai Rp 16,53 triliun, melibatkan 33,84 miliar dalam 2,14 juta kali transaksi.Â
Mengutip Refinitiv, kesehatan menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 2,27%. Selanjutnya sektor energi turun 1,81%, properti -1,55%, finansial -1,34%, dan industri -1,32%. Hanya sektor utilitas yang masih berada di zona hijau dengan kenaikan 0,14%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar pun menjadi pemberat utama IHSG. BBRI menyumbang 15,52 poin, diikuti BBCA sebesar 9,39 poin, Bayan Resources (BYAN) 9,97 poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 5,02 poin, Amman Mineral (AMMN) 4,03 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 3,47 poin.
Setidaknya ada dua sentimen global yang menjadi "hantu" bagi IHSG hari ini, yakni kembali naiknya harga minyak seiring memanasnya konflik Iran-Amerika Serikat dan lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury.
Kombinasi kenaikan yield Treasury dan harga minyak tersebut menjadi sentimen yang kurang bersahabat bagi pasar saham. Yield tinggi meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham, sedangkan lonjakan harga minyak memunculkan kembali risiko inflasi dan dapat mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) menghadapi persoalan utang yang semakin mengkhawatirkan. Utang pemerintah federal AS resmi menembus US$40 triliun, mencetak rekor baru dan menjadi peringatan atas semakin beratnya beban fiskal negara tersebut.
Salah satu dampaknya sudah terlihat di pasar obligasi. Departemen Keuangan AS menyiapkan aksi buyback surat utang hingga US$6 miliar untuk menjaga likuiditas pasar obligasi. Nilai tersebut mencapai tiga kali lipat dari operasi normal, dengan transaksi perdana menyasar Treasury tenor 10 tahun dan 20 tahun.
Akan tetapi kebijakan tersebut justru direspons negatif oleh pasar. Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,84%, sementara yield tenor 20 tahun mencapai 5,314% dan tenor 30 tahun menembus 5,3%.
Posisi yield Treasury 10 tahun tersebut bahkan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023. Kenaikan yield menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS sekaligus menekan valuasi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Investor Stanley Druckenmiller memperingatkan bahwa semakin pemerintah berusaha mempertahankan harga obligasi, semakin besar operasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan pasar.
Sementara itu, konflik Iran dan AS kembali memanas. Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menghancurkan lima tanker minyak Iran.
Eskalasi tersebut langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Harga Brent kemudian ditutup di US$101,21 per barel atau melonjak 3,4%, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1% menjadi US$97,06 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut telah berlangsung selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global karena kenaikan harga energi dapat kembali mendorong biaya produksi dan transportasi.
Kenaikan harga energi bahkan mulai terasa hingga ke konsumen. Harga diesel di AS mencetak rekor baru di atas US$5,94 per galon.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]