Rupiah Dibuka Menguat 0,11%, Dolar AS Turun ke Rp17.610

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 09:08 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (7/9/2026), rupiah berhasil terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.610/US$.


Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif pada Jumat (4/9/2026), ketika mata uang Garuda ditutup menguat 0,11% ke level Rp17.630/US$. Posisi itu menjadi penutupan terkuat rupiah sejak 21 Mei 2026.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 99,143.

DXY kembali terkoreksi setelah menguat 0,27% pada perdagangan Jumat pekan lalu. Pelemahan dolar pagi ini memberikan ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan.

Penguatan rupiah terjadi ketika pelaku pasar menantikan pengumuman posisi cadangan devisa Indonesia periode Agustus 2026. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data tersebut pada pukul 10.00 WIB hari ini.

Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan US$145,6 miliar pada akhir Juni.

Perkembangan tersebut dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah. Pada saat bersamaan, cadangan devisa juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi rupiah oleh BI.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juli setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Rilis periode Agustus akan dicermati untuk melihat seberapa besar ruang yang dimiliki BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah masih tingginya tantangan eksternal yang bisa menciptakan volatilitas di pasar keuangan global.

Cadangan devisa yang tetap kuat dapat menopang kepercayaan terhadap rupiah dan aset keuangan domestik. Sebaliknya, penurunan yang cukup besar dapat menunjukkan tingginya kebutuhan pembayaran eksternal maupun penggunaan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dari pasar global, dolar AS masih kesulitan melanjutkan penguatan meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali meningkat.

Laporan tenaga kerja AS pada Jumat lalu sempat memberikan dorongan kepada greenback. Data tersebut membuat pelaku pasar kembali memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 57%.

Namun, penguatan dolar tidak bertahan lama. Kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang terus membengkak dan ketidakpastian arah kebijakan Negeri Paman Sam masih membebani greenback.

Dolar juga menghadapi tekanan karena sejumlah bank sentral utama dunia diperkirakan turut menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut membuat selisih kebijakan moneter antara The Fed dan bank sentral lainnya tidak melebar secara signifikan sehingga membatasi daya tarik dolar AS.

Perhatian pasar kini beralih kepada data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed dan kembali mengangkat dolar.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi menekan dolar dan membuka ruang penguatan bagi rupiah.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Melonjak Hingga IHSG & Rupiah Kompak Melemah