Calon Deputi Gubernur Senior Aida Ungkap Ujian Berat Rupiah di 2026

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 16:44 WIB
Foto: Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman mengakui bahwa tantangan rupiah pada 2026 cukup berat. Aida memaparkan hal ini dalam fit and proper test dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Aida menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah memiliki keterkaitan erat dengan kondisi neraca transaksi berjalan dan transaksi finansial. Ketika aliran finansial masuk menguat, rupiah cenderung mendapatkan tekanan apresiasi. Sebaliknya, ketika sentimen global memburuk dan terjadi tekanan pada aliran modal, rupiah dapat mengalami depresiasi.


Menurut Aida, kondisi 2026 menjadi jauh lebih berat karena ketidakpastian global yang tinggi membuat persepsi investor berubah dengan cepat.

"2026 sangat berat karena tidak tahu perang dan persepsinya berubah," ujar Aida dalam paparannya.

Dalam kondisi tersebut, BI menurut Aida tidak menargetkan nilai tukar pada level tertentu. Fokus utama bank sentral adalah menjaga agar pergerakan rupiah tetap stabil dan tidak mengalami overshooting atau pelemahan berlebihan dari kondisi fundamentalnya.

Ia menjelaskan pada 2025 rupiah mengalami tren depresiasi. Namun, BI tetap berupaya menjaga stabilitas pergerakan nilai tukar agar pelemahan tidak berlangsung secara berlebihan.

Memasuki 2026, Aida melihat masih terdapat faktor fundamental yang dapat menjadi penyangga. Salah satunya adalah defisit transaksi berjalan yang diperkirakan tetap berada pada level yang terkendali, sekitar 3,3% dari produk domestik bruto (PDB).

Menurutnya, kondisi tersebut membantu menahan tekanan terhadap rupiah sehingga pergerakan nilai tukar secara bertahap dapat kembali lebih stabil.

"Adanya warna biru jadinya 3,3% current defisit bisa terjaga, pelan-pelan nilai tukar cenderung stabil," jelasnya.

Aida juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga seiring tekanan terhadap nilai tukar. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor dan pada akhirnya mendorong inflasi.

Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu bagian penting dari upaya BI menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah disepakati bersama pemerintah.

"Inflasi dicoba dalam target yang disetujui antara BI dan Kemenkeu," kata Aida.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Pilah-pilih Reksa Dana & Unit Link Saat Selat Hormuz Masih Panas