Hashim Djojohadikusumo Akui Kekayaannya Berasal dari Bisnis Fosil

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 15:20 WIB
Foto: Sesi dialog dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim S. Djojohadikusumo menyampaikan sambutan dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim Hashim Djojohadikusumo mengaku, sumber pundi-pundi kekayaannya sebagian besar berasal dari bisnis sektor energi dan pertambangan, termasuk energi fosil seperti minyak dan gas bumi.

"Meskipun saya adalah utusan khusus Presiden Indonesia untuk iklim dan energi, ini adalah rahasia umum, saya tidak menyembunyikan in, bahwa sebagian besar kekayaan pribadi saya ada di bahan bakar fosil," ujarnya dalam acara Internasional Indonesia CCS Forum 2026 di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (26/8/2026).


Hashim mengungkapkan, Ia menggeluti bisnis di sektor sektor migas dan pertambangan dalam kurun waktu selama puluhan tahun. "Bisnis minyak dan gas selama 34 tahun. Ya. Saya sudah di minyak dan gas lebih lama daripada beberapa dari Anda sejak Anda lahir, sejujurnya," ungkapnya.

Di sisi lain, Hashim mengaku, pemerintah berkomitmen untuk mendorong net zero emisi pada tahun 2060. Namun, menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak luput dari berkat sumber daya alam yang melimpah termasuk kekayaan hasil bumi.

Hashim optimis bahwa pemerintah Indonesia dapat terus mendorong pencapaian target net zero emission pada 2060, tanpa mengorbankan agenda pertumbuhan ekonomi nasional pemerintah yang ditargetkan mencapai 8%.

"Pak Prabowo merasa bahwa kita bisa mempercepatnya, tetapi Indonesia tidak ingin melakukan bunuh diri ekonomi. Kita ingin memiliki pertumbuhan setidaknya 8% dari beberapa tahun ke depan, dan salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan dan menggunakan semua yang kita miliki, termasuk bahan bakar fosil dan sumber energi," ungkapnya.

Hashim memaparkan, di tengah ketergantungan terhadap sumber daya alam, Ia melihat potensi tersebut dapat tercipta dari teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon atau carbon capture, utilization and storage (CCUS) sebagai salah satu solusi untuk menjaga industri energi sekaligus menekan emisi.

Ia menjabarkan, perkembangan teknologi dapat dimulai dari mengubah cara pandang terhadap karbon dioksida (CO2). Jika selama ini CO2 dianggap sebagai beban bagi industri, khususnya industri minyak dan gas, kini gas tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Ia menjelaskan lebih jauh, mikroalga dapat dikembangkan untuk menghasilkan biofuel sekaligus pakan ternak. Sejumlah eksperimen juga telah dilakukan untuk memanfaatkan CO2 dalam produksi mikroalga. Menurutnya, CO2 justru dapat meningkatkan produksi mikroalga.

"Faktanya, karbon dioksida Anda akan menjadi aset positif, bukan liabilitas di neraca Anda. Ini adalah sesuatu yang ingin saya bagikan kepada Anda," ucapnya.

Pemanfaatan mikroalga, lanjutnya, tidak hanya berpotensi menghasilkan biofuel dan pakan ternak. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menghasilkan spirulina dan chlorella yang memiliki kandungan protein tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan maupun pakan.

Selain pemanfaatan CO2 melalui mikroalga, perkembangan teknologi penangkapan karbon juga ditunjukkan melalui eksperimen teknologi asal Jepang di Petrokimia Gresik. Hashim mengatakan teknologi tersebut dilaporkan mampu mengurangi emisi karbon sekitar 90%-95%.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dukung B50 Prabowo - Elektrifikasi, Alat Berat Tambang Siap?