Miliarder AS Kaya Raya Gegara Pegang Prinsip Nabi
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah Nabi Nuh ternyata menjadi inspirasi bagi David Steward dalam membangun bisnis hingga menjadi miliarder. Pengusaha asal Amerika Serikat (AS) itu memilih tetap menjalankan keyakinannya meski sempat diremehkan dan menghadapi berbagai tantangan.
Steward kini memiliki kekayaan mencapai US$12,4 miliar atau sekitar Rp208 triliun. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu orang kulit hitam terkaya di dunia, menurut Forbes per Agustus 2026.
Kekayaan tersebut berasal dari bisnis teknologi yang dibangunnya, World Wide Technology (WWT). Steward mendirikan perusahaan tersebut pada 1990 dan kini menjabat sebagai chairman. WWT telah berkembang dari perusahaan kecil menjadi penyedia solusi teknologi global dengan lebih dari 12.000 karyawan.
Perusahaan tersebut menyediakan berbagai layanan teknologi untuk perusahaan dan institusi besar. Forbes mencatat WWTÂ memiliki pendapatan tahunan sekitar US$20 miliar.
Namun, perjalanan Steward menuju posisi tersebut tidak mudah.
Steward tumbuh di lingkungan yang masih menerapkan segregasi rasial di AS. Ia berasal dari keluarga dengan tujuh bersaudara, sementara ayahnya bekerja sebagai mekanik, petugas kebersihan, dan pengangkut sampah.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Central Missouri University, Steward sempat bekerja di bidang penjualan untuk Missouri Pacific Railroad, Union Pacific, dan FedEx. Ia kemudian memilih keluar dari jalur pekerjaan kantoran untuk membangun bisnis sendiri.
Pada 1990, Steward bersama Jim Kavanaugh mendirikan WWT. Saat itu, perusahaan tersebut berfokus pada distribusi perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan teknologi, termasuk untuk pemerintah federal AS.
Keputusan tersebut datang ketika industri teknologi belum sebesar sekarang. Steward harus membangun bisnis dari awal dan meyakini bahwa teknologi komputer akan memiliki peran semakin besar di masa depan.
Dalam perjalanan bisnisnya, Steward juga menghadapi keraguan dan cemoohan. Namun, ia justru menemukan pelajaran dari kisah Nabi Nuh yang kemudian menjadi bagian dari cara pandangnya dalam menjalani bisnis.
Dalam kisah tersebut, Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera sebelum datangnya banjir besar. Ia tetap mengerjakan perintah tersebut meski mendapat cemoohan dari masyarakat karena membuat bahtera ketika belum terlihat adanya bencana.
Bagi Steward, kisah tersebut mengajarkan pentingnya tetap mengerjakan sesuatu yang diyakini benar meski orang lain tidak memahami atau bahkan menertawakannya.
"Saat kamu punya ambisi besar, orang cenderung akan meledek kamu. Mereka jadi paling sering bersuara dan sok menilai kamu. Bahwa kamu tidak seharusnya mengejar mimpi dan ambisi kamu," kata Steward kepada Forbes pada 2004.
Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu pegangan Steward ketika membangun WWT.
Perlahan, keputusan Steward membuahkan hasil. WWT berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di AS dan menjadi perusahaan terbesar milik orang kulit hitam di negara tersebut. Perusahaan ini kini menangani solusi teknologi untuk perusahaan-perusahaan besar, termasuk Citi dan Verizon.
Kisah Steward pun menjadi contoh bagaimana keyakinan terhadap sebuah visi dapat menjadi modal penting dalam membangun bisnis. Dari keluarga sederhana dan menghadapi diskriminasi sejak kecil, ia berhasil membangun perusahaan teknologi dengan pendapatan puluhan miliar dolar dan mengumpulkan kekayaan pribadi hingga US$12,4 miliar.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]