Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 14:00 WIB
Foto: Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral tidak bisa hanya mengandalkan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global yang dinilai semakin tidak lazim, BI harus mengandalkan bauran kebijakan yang lebih luas untuk menjaga rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.


Hal itu disampaikan Destry saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Menurut Destry, tantangan yang dihadapi bank sentral saat ini berbeda dibandingkan teori ekonomi konvensional. Di banyak negara maju, perlambatan ekonomi justru terjadi bersamaan dengan inflasi yang tinggi akibat gangguan rantai pasok dan lonjakan harga komoditas.

Situasi yang tidak biasa itu juga terlihat di Amerika Serikat. Secara teori, ketika permintaan dolar meningkat dan investor membeli obligasi pemerintah AS, imbal hasil (yield) surat utang seharusnya turun. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Ini situasi yang tidak biasa. Karena itu kita tidak bisa hanya bersandar pada satu kebijakan tertentu," ujar Destry.

Akibat kondisi ini, Destry mengungkapkan alasan BI tidak selalu merespons tekanan nilai tukar rupiah dengan menaikkan BI Rate.

Menurutnya, keputusan suku bunga harus mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, dalam sejumlah kesempatan BI memilih menggunakan instrumen lain untuk menopang rupiah.

"Saat RDG kemarin kami tidak bisa menaikkan suku bunga untuk mendukung rupiah karena kami juga melihat masih ada pekerjaan rumah pada pertumbuhan ekonomi," katanya.

"Kami menggunakan kebijakan pendukung kami memberikan insentif dan hedging karena butuh inflow masuk," tambahnya.

Sebagai gantinya, BI mengandalkan berbagai instrumen pendukung seperti insentif likuiditas, kebijakan lindung nilai (hedging), serta upaya menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Destry menegaskan strategi tersebut dimungkinkan karena pasar keuangan Indonesia kini jauh lebih dalam dibanding beberapa tahun lalu.

Ia mengungkapkan volume transaksi pasar uang domestik telah meningkat sekitar enam kali lipat dalam enam tahun terakhir. Sementara transaksi pasar valuta asing (valas) melonjak hingga tiga kali lipat dengan nilai transaksi harian mencapai sekitar US$12 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode 2020.

"Pasar yang makin dalam membuat stabilitas lebih terjaga sekaligus menjadi sumber pembiayaan pembangunan," ujarnya.

Meski menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah, Destry memastikan independensi BI tetap menjadi prinsip utama dalam menjalankan kebijakan moneter.

Menurutnya, sinergi bukan berarti mengorbankan independensi bank sentral. Sebaliknya, koordinasi diperlukan karena tantangan ekonomi saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi atau satu instrumen kebijakan saja.

Karena itu, BI akan tetap menjalankan mandat menjaga stabilitas nilai rupiah sembari mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, hingga pendalaman pasar keuangan.

Dalam paparannya, Destry juga menegaskan pengendalian inflasi tidak sepenuhnya berada di tangan BI.

Menurutnya, inflasi inti (core inflation) yang dipengaruhi sisi permintaan memang menjadi wilayah utama kebijakan moneter. Namun, komponen inflasi lain seperti harga pangan dan administered prices membutuhkan keterlibatan pemerintah.

Destry menjelaskan inflasi inti berkontribusi sekitar 65% terhadap inflasi keseluruhan. Sementara inflasi pangan menyumbang sekitar 19%. Karena itu, jika harga pangan tidak terkendali, tekanan terhadap inflasi nasional akan tetap besar meskipun BI menjalankan kebijakan moneter yang ketat.

"Inflasi sudah pasti tidak bisa ditangani BI sendiri karena demand side karena core inflation 65% dari head inflation," katanya.

Selain faktor pangan, inflasi juga dipengaruhi administered prices seperti harga bahan bakar minyak (BBM). Menurut Destry, kenaikan harga BBM biasanya memberikan dampak terhadap inflasi selama satu hingga dua bulan sebelum kembali menyesuaikan.

Pernyataan Destry ini menjadi sinyal bahwa di bawah kepemimpinannya, BI kemungkinan akan tetap mengedepankan pendekatan yang lebih fleksibel dalam menentukan arah BI Rate. Fokusnya bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu oleh kebijakan moneter yang terlalu ketat.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perdana Pimpin RDG, Destry Umumkan BI Tahan Suku Bunga di 5,75%