TOBA Ubah Haluan Bisnis, Bakal Ada Aksi Korporasi Jumbo
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten energi terbarukan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengubah lini bisnisnya dari perusahaan berbasis batu bara menuju bisnis yang lebih terdiversifikasi.
Adapun, lini bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi, atau 93% dari total EBITDA disesuaikan. Pendapatan dari segmen bisnis pengelolaan limbah juga melonjak 447,69% YoY atau 5,5 kali lipat dari US$9,4 juta dalam kuartal pertama 2025 menjadi US$51,9 juta selama triwulan pertama 2026.
Dalam laporan terbaru Energy Shift Institute (ESI) bertajuk Indonesia's Coal Sector: Outlook, Risks, and Mitigation Strategies edisi Agustus 2026, arah diversifikasi TOBA juga relatif berbeda dibandingkan sejumlah pemain lainnya. Berdasarkan pemetaan ESI, portofolio diversifikasi TOBA telah mencakup tiga area yang berkaitan langsung dengan transisi energi dan ekonomi hijau, yakni energi terbarukan, kendaraan listrik, serta pengelolaan limbah.
Beberapa perusahaan lain memilih diversifikasi melalui mineral dan logam maupun hilirisasi batu bara. Perubahan tersebut semakin terlihat dalam komposisi bisnis TOBA. ESI menempatkan TOBA sebagai salah satu perusahaan dengan tingkat diversifikasi pendapatan tertinggi dalam kelompok yang dianalisis.
Namun ESI memberikan catatan bahwa TOBA masih berada pada area low operating margin-high diversification, menunjukkan bahwa peningkatan kontribusi bisnis non-batu bara belum langsung diikuti tingkat profitabilitas yang tinggi.
Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan strategi diversifikasi yang gagal. ESI justru memberikan konteks bahwa proses diversifikasi sedang berjalan dan profitabilitas diharapkan mengikuti.
Dengan kata lain, margin operasional TOBA yang masih rendah dapat dilihat sebagai konsekuensi jangka pendek dari fase investasi dan pembangunan bisnis baru secara aktif, sebelum skala operasi dan tingkat utilisasi aset baru mencapai level yang lebih optimal.
Christian Sitorus, Analis MNC Sekuritas menjelaskan bahwa tahun-tahun awal transformasi tidak bisa langsung mencetak margin yang tebal karena membutuhkan penyesuaian model operasional sebagai konsekuensinya.
"Sepanjang transformasi bisnis sudah mulai tercermin di pendapatan, ruang untuk melakukan efisiensi juga terbuka seiring waktu. Untuk TOBA, kontribusi pendapatan dari bisnis yang sustainable seperti waste management dan EV sudah signifikan dan terlihat di kuartal I-2026. Marjin dan profitabilitas nanti akan mengikuti ke depannya." ujar Christian.
Pada kuartal I-2026, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$86,29 juta, meningkat sekitar 20,6% dibandingkan US$71,52 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto juga meningkat menjadi US$10,38 juta dari US$7,07 juta, atau tumbuh sekitar 46,8% secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang oleh lini usaha di luar batu bara. Pendapatan dari pengolahan dan pembuangan limbah mencapai US$51,96 juta pada kuartal I-2026, melonjak dari US$9,49 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan penjualan dan penyewaan kendaraan listrik meningkat menjadi US$3,20 juta dari US$1,35 juta. Pendapatan dari produk perkebunan tercatat sekitar US$1,60 juta. Pada saat yang sama, pendapatan batu bara tercatat US$29,52 juta, turun dari US$47,95 juta pada kuartal I-2025.
Christian menambahkan transformasi biasanya akan baru benar-benar terasa setelah mencapai tahun ketiga sampai tahun kelima atau bahkan bisa lebih cepat.
"TOBA masih berada di fase awal transformasi dari perusahaan batu bara ke sustainable business. Perkembangannya sudah positif sejauh ini. Ke depan, sustainable growth story, profitabilitas dan margin tebal serta arus kas yang kuat adalah arah yang dituju TOBA" pungkas Christian.
Seperti diketahui, TOBA sedang mengubah arah bisnisnya dari coal-based business menuju company centered on sustainability. Transformasi tersebut mencakup pengembangan waste management, electric vehicles, serta renewable energy.
Perseroan berencana melakukan penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,39 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi korporasi tersebut dilakukan dalam rangka mendukung perkembangan dan ekspansi usaha TOBA khususnya di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan serta kendaraan listrik.
Nantinya, seluruh dana yang diperoleh dari hasil rights issue tersebut, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi yang menjadi kewajiban Perseroan, akan dipergunakan untuk mendukung perkembangan dari ekspansi usaha Perseroan khususnya di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan serta kendaraan listrik.
"Penambahan modal yang diperoleh dari hasil PMHMETD akan memperkuat struktur permodalan Perseroan serta mendukung perkembangan dan ekspansi usaha Perseroan. Peningkatan modal Perseroan dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan daya saing usaha dan meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi pemegang saham Perseroan," tulis manajemen.
(ayh/ayh)