Internasional

Jepang Dilanda Inflasi Tertinggi Tahun Ini, Harga Energi Menggila

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 21/08/2026 13:51 WIB
Foto: Inflasi Jepang (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Jepang kembali memanas. Tingkat inflasi utama (headline inflation) pada Juli 2026 mencapai 1,9% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi level tertinggi sepanjang tahun ini.

Kenaikan inflasi terjadi ketika harga energi mulai meningkat akibat melonjaknya harga minyak di tengah perang Iran dan konflik di Timur Tengah. Data menunjukkan inflasi inti Jepang, yang tidak memasukkan harga makanan segar tetapi masih memperhitungkan energi, berada di 1,8% yoy, sesuai dengan ekspektasi pasar.


Kenaikan harga energi menjadi perhatian utama. Harga energi Jepang meningkat untuk pertama kalinya sejak November 2025, meskipun pemerintah telah memberikan subsidi untuk menahan dampak kenaikan biaya energi terhadap masyarakat.

Tekanan tersebut juga tercermin pada inflasi di tingkat grosir. Inflasi harga produsen Jepang mencapai 7,2% pada Juli, dengan biaya listrik menjadi kontributor terbesar.

Tak hanya energi, harga makanan segar juga melonjak. Harga kelompok makanan segar meningkat 7% yoy pada Juli, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 3,9% pada Juni. Sementara itu, inflasi yang disebut core-core inflation-yang mengecualikan harga makanan segar dan energi-berada di level 1,9%.

BOJ Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Kenaikan inflasi ini berpotensi menjadi pertimbangan penting bagi Bank of Japan (BOJ) dalam menentukan kebijakan suku bunga. Dalam laporan prospeknya bulan lalu, BOJ memperingatkan bahwa inflasi inti berpotensi meningkat ke level yang jelas di atas 2% mulai paruh kedua tahun fiskal 2026 Jepang, yang berlangsung dari September hingga Maret.

BOJ menyebut kenaikan upah yang diteruskan perusahaan ke harga jual, kenaikan harga minyak mentah, serta pelemahan yen sebagai faktor yang dapat mendorong inflasi. Namun, bank sentral Jepang memperkirakan tekanan inflasi dapat kembali mendekati 2% apabila harga minyak mentah mulai turun.

Ekonom Asia-Pasifik di State Street Investment Management, Krishna Bhimavarapu, menilai kenaikan inflasi utama menjadi 1,9% memperkuat pandangan bahwa BOJ kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada September. "Kenaikan inflasi utama ke 1,9% memperkuat keyakinan kami bahwa langkah BOJ berikutnya kemungkinan adalah kenaikan suku bunga pada September," ujar Bhimavarapu.

Meski permintaan domestik Jepang masih relatif kuat, ia mengatakan harga pangan perlu menjadi perhatian lebih besar karena memiliki bobot yang cukup besar dalam keranjang perhitungan inflasi Jepang. Selain itu, gangguan terhadap pasokan produk pertanian global akibat fenomena El Nino juga berpotensi kembali mendorong harga pangan.

Harga makanan, terutama beras, sebelumnya menjadi isu besar di Jepang. Bahkan, persoalan harga beras sempat berujung pada kehilangan jabatan Menteri Pertanian Jepang saat itu, Taku Eto, setelah komentarnya mengenai menerima beras gratis dari para pendukung menuai kontroversi.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sinyal Suku Bunga Tinggi BI & The Fed, Bos MI Ungkap Efeknya