Breaking! Neraca Pembayaran RI Defisit US$ 900 Juta di Kuartal II

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Jumat, 21/08/2026 10:46 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit, tetapi nilainya menyusut tajam dibandingkan periode sebelumnya. Bank Indonesia (BI) mencatat defisit NPI sebesar US$0,9 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I-2026.

Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh membaiknya transaksi modal dan finansial yang kembali mencatat surplus, di tengah transaksi berjalan yang justru mengalami pelebaran defisit.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," tulis BI dalam laporan NPI kuartal II-2026.


BI mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% terhadap PDB. Angka tersebut melebar signifikan dibandingkan defisit kuartal sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar atau 1% dari PDB.

Pelebaran defisit tersebut terutama dipengaruhi kenaikan defisit neraca perdagangan migas akibat meningkatnya impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia.

Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas juga menurun. Kondisi ini terjadi seiring dengan tingginya impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi domestik.

Defisit transaksi berjalan juga tertekan oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer akibat kenaikan pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Meski demikian, BI menilai sejumlah faktor yang menekan transaksi berjalan tersebut bersifat sementara.

Berbeda dengan transaksi berjalan, transaksi modal dan finansial mencatat perbaikan signifikan.

Pada kuartal II-2026, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$12 miliar, berbalik dari defisit US$4,8 miliar pada kuartal I-2026.

Perbaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya aliran investasi langsung dan investasi portofolio.

Investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi seiring tetap terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi Indonesia.

Sementara itu, investasi portofolio juga meningkat seiring dengan semakin menariknya imbal hasil instrumen keuangan domestik.

Adapun investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat. BI mencatat cadangan devisa pada akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar.

Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

BI menilai kondisi cadangan devisa tersebut menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Ke depan, BI memperkirakan prospek NPI tetap positif sehingga dapat terus menopang ketahanan eksternal Indonesia.

Defisit transaksi berjalan diperkirakan menyusut, didukung membaiknya prospek ekspor seiring kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas unggulan Indonesia.

Dampak positif dari penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) juga diperkirakan memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial diproyeksikan tetap mencatat surplus. Aliran modal asing diperkirakan berlanjut seiring masih menariknya imbal hasil instrumen keuangan domestik dan positifnya prospek perekonomian Indonesia.

BI menegaskan sinergi kebijakan dengan pemerintah juga akan terus diperkuat untuk menjaga kinerja NPI sepanjang 2026, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perdana Pimpin RDG, Destry Umumkan BI Tahan Suku Bunga di 5,75%