Rupiah Bakal Menguat Sampai Berapa? Data-Data Ini Jadi Acuannya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat ekonomi buka suara soal nasib rupiah ke depan, di mana mata uang Garuda tengah menjadi pembahasan yang masif di masyarakat setelah sempat menyentuh Rp18.000-an dihadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonom senior Raden Pardede mengatakan faktor yang mempengaruhi kuat atau tidaknya rupiah bisa dilihat dari kondisi cadangan devisa dan neraca pembayaran (balance of payment/BOP).
"Jadi, kalau kita lihat rupiah itu faktor apa yang menentukan naik atau turunnya, sebetulnya, bisa dilihat dari cadangan devisanya cukup atau tidak. Kemudian yang berikutnya adalah bagaimana kondisi balance of payment," kata Raden dalam acara KONEKSI CNBC Indonesia, dikutip pada Jumat (12/6/2026).
Raden melanjutkan, jika neraca pembayaran masih menunjukkan angka positif, maka cadangan devisa nasional juga masih kuat, sehingga pemerintah masih memiliki amunisi yang kuat untuk menstabilkan rupiah.
"Kalau balance of payment masih terus positif, maka cadangan devisa kita akan naik dan masih kuat. Artinya kita masih punya amunisi untuk melawan setiap serangan-serangan terhadap rupiah atau melawan setiap permintaan dolar AS yang membuat rupiah memburuk," lanjutnya.
Menurutnya, dalam komponen neraca pembayaran, terdiri atas transaksi berjalan (current account) dan neraca modal (capital account). Dari transaksi berjalan, ada komponen seperti neraca perdagangan (trade balance) dan neraca jasa.
"Nah, sekarang ini trade balance kita itu masih positif. Tapi sudah turun akibat dari impor, karena harga minyak yang naik. Kemudian di neraca jasa, ini kita selalu negatif. Jadi dua-duanya ini sekarang membuat current account kita sudah negatif," terang Raden.
Dia melanjutkan, sejatinya neraca modal Indonesia sempat positif. Namun kini mulai mengalami penurunan karena portofolio investor asing yang makin berkurang.
"Sedangkan financial account kita sempat positif. Financial account itu terdiri dari utama adalah foreign direct invesment (FDI), satu lagi adalah portofolio. Persoalannya, di portofolio ini sudah negatif dan cukup besar," ujar Raden.
Alhasil, neraca pembayaran Indonesia, jika dihitung antara transaksi berjalan dengan neraca modal, maka sudah berubah menjadi negatif.
NPI pada triwulan I 2026 mencatat defisit 9,1 miliar dolar AS. Transaksi berjalan mencatat defisit 4,0 miliar dolar AS (1,1% dari PDB). Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS
"Dua-duanya ini sekarang kalau dijumlahkan, neraca pembayaran kita jadi negatif, alias menurun. Makanya kalau kita lihat neraca pembayaran kita, cadangan devisa kita sekarang ini turun. Kalau enggak salah di awal 2026 masih di US$154,6 miliar, sekarang (Mei 2026) turun jadi US$144,9 miliar. Artinya Bank Indonesia sudah mencoba melakukan, tetapi ini tetap turun, akibat daripada capital outflow," imbuhnya.
Tak hanya karena cadangan devisa yang terus menurun, masih adanya defisit anggaran turut mempengaruhi kuat atau tidaknya rupiah.
"Belum lagi dari defisit anggaran, karena kalau defisitnya besar, kan ada juga yang memegang uang ini di luar negeri, itu juga mempengaruhi. Nah, gabungan dari situlah utamanya yang menentukan nilai tukar tadi," ucapnya.
Selain itu, faktor politik, termasuk kondisi geopolitik global dan politik di dalam negeri turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
(chd/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]