MARKET DATA

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik Tipis ke Rp17.830

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
18 August 2026 09:04
Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan perdana pekan ini dengan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasar keuangan domestik kembali dibuka setelah libur HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin kemarin.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8/2026), rupiah terdepresiasi tipis 0,06% ke posisi Rp17.830/US$.

Pelemahan tersebut membalikkan penguatan pada perdagangan Jumat (14/8/2026), ketika mata uang Garuda ditutup menguat 0,22% ke level Rp17.820/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,11% ke posisi 99,528.

Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi pelemahan dolar AS di pasar global serta dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Dari eksternal, dolar AS berada di bawah tekanan setelah sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan pelemahan. Penjualan ritel AS pada Juli turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, menyusul hilangnya lapangan kerja serta inflasi yang relatif terkendali.

Rangkaian data tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS sekaligus mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September hanya sebesar 30,6%, turun tajam dari 52,2% pada pekan sebelumnya.

Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga tersebut menekan dolar dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Pasar selanjutnya akan menantikan simposium tahunan The Fed di Jackson Hole pada pekan depan untuk mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat bank sentral terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga.

Dari dalam negeri, BI mulai menggelar RDG selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).

BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun. Sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu penentu arah rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Rp18.050


Most Popular
Features