Minyak Tak Lagi US$100, Ekonom Lihat Peluang RI Akhiri Defisit Dagang

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 15:15 WIB
Foto: Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro (Dok, Bank Mandiri)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia bisa memanfaatkan momentum untuk membalikkan defisit neraca dagang menjadi surplus saat ini karena harga minyak mentah dunia yang telah mendingin.

Harga minyak mentah dunia saat ini telah turun dari posisi US$100 per barel. Merujuk data Refinitiv pada pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di US$87,95 per barel,


Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro sendiri melihat keseimbangan US$70-80 per barel, lebih rendah dibandingkan akhir kuartal pertama dan kuartal kedua yang reratanya di US$90-100 per barel.

Asmoro menilai turunnya harga minyak mentah menjadi katalis positif untuk impor dan neraca dagang Indonesia yang dalam dua bulan terakhir mengalami defisit perdagangan.

"Kalau itu bisa dipertahankan (harga minyak di level keseimbangan), mestinya beban untuk yang impornya jadi relatif berkurang ke depannya," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Kepala Ekonom Mandiri mengatakan momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk menggenjot ekspor sehingga dapat mencapai surplus perdagangan yang ujungnya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di semester dua 2026.

"Sekarang tinggal kemudian bagaimana menjaga supaya ekspor kita itu terus bisa tumbuh di tengah peluang yang cukup besar juga sebenarnya," ucap Andry Asmoro.

Dirinya melihat ada berbagai komoditas yang dapat dimaksimalkan ekspornya, misalnya sektor perkebunan dan pertanian yang diminati banyak negara.

"Kalau kita lihat Indonesia itu sangat banyak potensi untuk mendorong sisi ekspor dari mana kalau dari berbagai komoditas dan sektor yang ada kita melihat bahwa kita sangat kaya terhadap sektor pertanian perkebunan dan demand-nya sangat besar banyak negara-negara yang menjadi tujuan ekspor kita saat ini memiliki populasi yang besar dan juga memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang besar," kata Asmoro.

"Ini yang kemudian nanti bisa kemudian mendongkrak ekspor kita ke depan," lanjutnya.

Adapun hasil pertanian dan perkebunan yang bisa didorong ekspornya seperti kopi, cokelat, pala, dan kelapa yang ditaksir oleh negara-negara seperti India, Bangladesh, Pakistan dan lainnya.

Seperti diketahui, ekspor mengalami defisit dua bulan beruntun yakni pada Mei dan Juni. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit sebesar US$ 450 juta. Sementara defisit pada Mei 2026 mencapai US$ 1,61 miliar.

Defisit perdagangan kemudian memperlebar defisit net ekspor pada komponen pengeluaran PDB Indonesia pada kuartal kedua 2026 menjadi -0,78 persen dibandingkan -0,02 persen pada kuartal kedua 2025.


(ras/haa)
Saksikan video di bawah ini:

H1-2026, Bank Mandiri Cetak Laba Bersih Konsolidasi Rp 30,4 Triliun