MSCI Tendang 10 Saham, IHSG Pagi Ini Turun 0,43%

mkh, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 09:03 WIB
Foto: Ilustrasi orang berdoa dengan latar belakang Bursa Saham Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada awal perdagangan Kamis (13/8/2026), setelah sempat dibuka menguat. Investor mencermati hasil Morgan Stanley Capital International (MSCI) August 2026 Index Review yang diumumkan dini hari tadi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pukul 09.01 WIB, IHSG turun 27,70 poin atau 0,43% ke level 6.346,15. Padahal, indeks sempat dibuka di level 6.388,23 atau menguat 0,23% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.373,85.

Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 647,8 miliar dengan melibatkan 1,2 miliar saham dalam 95.580 kali transaksi. 


Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (13/8/2026) akan dibayangi hasil Morgan Stanley Capital International (MSCI) August 2026 Index Review serta sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

MSCI dalam hasil review Agustus tidak menambahkan saham Indonesia ke MSCI Global Standard Indexes. Sebaliknya, dua saham dikeluarkan dari kategori tersebut, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang turun kelas ke MSCI Global Small Cap Indexes dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI).

MSCI juga menghapus sembilan saham Indonesia dari Global Small Cap Indexes. Seluruh perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 atau efektif mulai 1 September 2026.

Dari Amerika Serikat, pasar mendapat sinyal positif terbatas setelah inflasi konsumen (CPI) Juli sesuai dengan ekspektasi. CPI naik 0,1% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti masing-masing naik 0,2% dan 2,5%. Data tersebut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, meski laju inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data Producer Price Index (PPI) AS dan klaim awal pengangguran yang akan dirilis Kamis malam. PPI menjadi penting untuk melihat apakah tekanan harga di tingkat produsen ikut mereda, sementara data tenaga kerja akan menjadi petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk saham Indonesia.

Selain itu, investor regional akan mencermati PPI Jepang yang diperkirakan kembali meningkat pada Juli. Kenaikan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan dan meningkatkan volatilitas pasar Asia.

Sementara itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko bagi pasar global. Kebuntuan AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga minyak tetap tinggi dan volatil, dengan Brent berada di sekitar US$88 per barel dan WTI sekitar US$83 per barel.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Profit Taking di Awal Agustus, IHSG Longsor ke Zona Merah