MARKET DATA

Jantung Investor Agak Tenang Sedikit, Ini Penyebab IHSG Naik 1%

mkh,  CNBC Indonesia
25 June 2026 09:46
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Investor saham di Tanah Air pagi ini bernafas lega. Setelah kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,56%, pagi ini IHSG menguat dengan seluruh sektor berada di zona hijau. 

IHSG sempat dibuka di zona merah sebelum akhirnya melaju kencang dan naik hingga 1% lebih. Tercatat mayoritas saham atau 463 emiten naik, 153 turun, dan 343 stagnan. 

Nilai transaksi pun terbilang ramai, yakni Rp 3,02 triliun, melibatkan 5,13 miliar saham dalam 400.300 kali transaksi. Kapitalisasi pasar masih berkutat di bawah Rp 11.000 triliun atau tepatnya Rp 10.426 triliun. 

Berdasarkan data Refinitiv , penguatan IHSG berlangsung secara luas, dengan seluruh sektor berada di zona hijau. Sektor energi 1,57%, teknologi 1,19%, dan consumer non-cyclicals 1,15%.

Dari sisi kontributor indeks, saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama penguatan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 7,02 poin terhadap IHSG.

Selanjutnya disusul PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) 5,83 poin, PT Astra International Tbk (ASII) 4,79 poin, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 4,78 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 4,70 poin. Dukungan juga datang dari SMMA, BYAN, TLKM, DSSA, dan BMRI.

Sementara itu, penahan laju kenaikan indeks relatif terbatas. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 1,21 poin, diikuti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) -1,13 poin, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) -0,79 poin, PT Bank Mega Tbk (MEGA) -0,44 poin, serta PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) -0,37 poin.

Adapun memasuki perdagangan Kamis (25/6/2026), pergerakan IHSG diperkirakan masih dipengaruhi sentimen hasil review MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market.

Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi keluarnya dana asing secara besar-besaran apabila status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Meski demikian, MSCI masih memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas implementasi reformasi pasar modal yang akan kembali dievaluasi pada November 2026.

Dari domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menilai keputusan MSCI mencerminkan masih kuatnya kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia. OJK menegaskan akan melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas dan transparansi pasar, sementara pemerintah menilai evaluasi lanjutan MSCI merupakan proses yang wajar.

Di sisi eksternal, perhatian investor beralih ke rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi acuan utama The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Jika inflasi PCE kembali menunjukkan kenaikan, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) berpotensi menguat, mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, sehingga dapat memicu tekanan terhadap aset berisiko termasuk IHSG dan rupiah.

Selain itu, pasar juga menunggu data klaim pengangguran mingguan AS untuk membaca kondisi terbaru pasar tenaga kerja. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang tetap solid berpotensi memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk segera memangkas suku bunga.

Di tengah sentimen tersebut, indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 menjadi faktor yang masih membatasi ruang penguatan rupiah dan pasar saham domestik, seiring meningkatnya tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang.

Merujuk data Refinitiv, rupiah harus rela parkir di zona merah setelah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$ kemarin, Rabu (25/6/2026). Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda belum mampu keluar dari tekanan dan sudah melemah selama empat hari perdagangan beruntun.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Dibuka Menguat 0,57% Pagi Ini ke Level 6.212


Most Popular
Features