Emas Cetak Kenaikan Terbaik 7 Bulan, Investor Mulai Borong Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas mencatatkan kinerja mingguan terbaik dalam tujuh bulan terakhir. Logam mulia tersebut melonjak sekitar 7% dalam sepekan.
Hal ini didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil Treasury, serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari.
Mengutip CNBC International, Selasa (11/8/2026), pergerakan emas kembali menarik perhatian investor karena sejumlah faktor makroekonomi mulai mendukung aset safe haven tersebut. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lunak dari perkiraan menunjukkan adanya tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja.
Revisi data sebelumnya juga memperkuat ekspektasi bahwa tekanan terhadap pasar tenaga kerja mulai meningkat. Kondisi tersebut kemudian mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif.
Di sisi lain, penurunan imbal hasil Treasury dan pelemahan dolar AS membuat emas menjadi relatif lebih menarik. Emas tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga biaya peluang untuk memegang logam mulia tersebut menurun ketika yield obligasi turun.
Emas Kembali Jadi Aset Safe Haven
Selain faktor suku bunga dan dolar, kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter AS turut menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Penguatan juga terjadi di pasar logam mulia lainnya.
Harga perak, platinum, dan palladium ikut mengalami kenaikan. Sementara tembaga masih berada di dekat level tertingginya.
Analis Michael Khouw menilai momentum penguatan emas masih berpotensi berlanjut. Menurutnya, masih merujuk CNBC International, emas memang masih berada di bawah rata-rata pergerakan 150 hari.
Namun, sejumlah instrumen yang terkait dengan emas mulai menunjukkan sinyal penguatan. Salah satunya adalah saham perusahaan tambang emas Newmont Mining.
Perusahaan tersebut merupakan salah satu komponen terbesar dalam ETF pertambangan emas dan telah menembus level rata-rata pergerakan 150 hari. Pergerakan tersebut dinilai dapat menjadi sinyal bahwa instrumen lain seperti ETF VanEck Gold Miners (GDX) dan SPDR Gold Shares (GLD) berpotensi mengikuti.
China Tambah Cadangan Emas di Hong Kong
Permintaan emas dari China juga menjadi salah satu perhatian pasar. Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) memperluas fasilitas penyimpanan emas di Hong Kong.
Langkah tersebut dilakukan seiring ambisi Hong Kong untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas internasional. Peningkatan fasilitas penyimpanan tersebut juga menjadi bagian dari tren yang lebih luas, yakni kembalinya cadangan emas negara-negara berdaulat ke kawasan Asia dari London.
PBOC sendiri telah mencatatkan pembelian emas selama 21 bulan berturut-turut. Pada Juli 2026 saja, bank sentral China menambah sekitar 20 ton emas ke dalam cadangannya. Langkah tersebut menunjukkan bahwa permintaan dari bank sentral masih menjadi salah satu penopang penting pasar emas global.
Investor Mulai Membidik Kenaikan Lebih Lanjut
Dari sisi pasar opsi, struktur volatilitas emas juga menunjukkan peluang kenaikan yang lebih besar. Menurut Khouw, opsi beli atau call option di luar harga pasar memiliki volatilitas tersirat yang lebih tinggi dibandingkan opsi yang berada di sekitar harga pasar.
Kondisi tersebut membuat strategi call spread menjadi lebih menarik bagi investor yang ingin mengambil posisi atas potensi kenaikan harga emas. Salah satu contoh yang digunakan adalah strategi call spread pada ETF SPDR Gold Shares (GLD) dengan harga kesepakatan US$400 dan US$460 untuk November.
Strategi tersebut membutuhkan biaya sekitar US$16,15 per saham atau sekitar US$1.615 per kontrak, dengan potensi imbal hasil hampir tiga kali lipat apabila GLD kembali melonjak sekitar 15% dalam 100 hari berikutnya.
Dengan kombinasi pelemahan dolar, penurunan yield Treasury, ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih longgar, serta pembelian emas oleh bank sentral, emas kembali mendapatkan dukungan kuat dari pasar. Namun, pergerakan harga selanjutnya tetap akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan arah kebijakan moneter The Fed.
(sef/sef)