Harga Minyak Sentuh US$84,32, Selat Hormuz Masih Jadi Isu
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah pasar kembali dibayangi ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.45 WIB, harga Brent tercatat US$84,32 per barel. Harga ini naik 0,92% dibandingkan penutupan Jumat (7/8) sebesar US$83,55 per barel.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$78,68 per barel, naik 0,64% dari US$78,18 per barel pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak mengalami tekanan cukup dalam sepanjang pekan lalu. Brent turun dari US$90,12 per barel pada 31 Juli menjadi US$83,55 pada 7 Agustus, atau merosot 7,29%.
Perubahan arah harga minyak terjadi ketika pasar kembali menghadapi ketidakpastian terkait pembukaan Selat Hormuz.
Iran pada Minggu menyatakan pembicaraan dengan Oman mengenai kesepakatan yang mengatur jalur pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, Teheran masih menyebut terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum jalur tersebut dibuka kembali.
Kondisi ini membuat pasar belum memiliki kepastian kapan lalu lintas kapal tanker dapat kembali normal.
Sebelumnya, ekspektasi terhadap tercapainya kesepakatan sempat menekan harga minyak. Pada awal Agustus, harga Brent turun di bawah US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Namun, pasar kembali berhati-hati setelah muncul rincian mengenai aturan pelayaran yang sedang dibahas Iran dan Oman.
Iran tengah mengkaji rancangan aturan yang dapat melarang kapal Amerika Serikat, Israel dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenakan denda hingga 20% dari nilai kargo.
Iran juga menginginkan pungutan sekitar 5%-7% dari harga kargo bagi kapal yang melewati selat tersebut. Oman membahas pungutan sekitar 3%, sementara Amerika Serikat menginginkan tidak ada pungutan.
Rancangan kesepakatan tersebut menghadapi persoalan lain. Sejumlah sumber industri menyebut sanksi Amerika Serikat serta ketentuan asuransi membuat mekanisme pembayaran dan pelayaran melalui selat tersebut sulit diterapkan.
Risiko pasokan juga kembali mendapat perhatian setelah fasilitas minyak Arab Saudi diserang pada akhir pekan. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu.
Serangan tersebut terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Di kawasan Teluk, perusahaan energi Uni Emirat Arab, ADNOC, sebelumnya menyebut 15 kapalnya telah diserang ketika melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai.
Pasar kini menghadapi dua perkembangan yang bergerak berlawanan. Harapan tercapainya kesepakatan dapat membuka ruang bagi pemulihan arus perdagangan dan menekan harga minyak. Sebaliknya, aturan pelayaran yang belum jelas serta serangan terhadap infrastruktur dan kapal energi mempertahankan risiko gangguan pasokan.
Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade, mengatakan pelaku pasar masih menunggu bukti konkret sebelum mengurangi premi risiko, seperti pergerakan kapal tanker yang telah terverifikasi atau kesepakatan formal.
CNBC Indonesia
(emb/emb)