Heboh FIFA Mau Dijual, Bank Raksasa Ini Jadi Sorotan Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank raksasa, JPMorgan Chase kini menjadi sorotan dunia sepak bola terkait perannya sebagai penasihat keuangan yang menyusun valuasi dan strategi dari rencana proyek bisnis FIFA.
Seperti diketahui, FIFA memiliki rencana ambisius untuk membentuk entitas bisnis baru yang mengelola hak komersial turnamen-turnamen sepak bola dunia. Namun, rencana tersebut resmi dibatalkan setelah memicu gelombang penolakan keras, terutama dari federasi sepak bola Eropa. Dalam hal ini, FIFA akan melepas sekitar 20% saham entitas tersebut kepada investor swasta dengan valuasi mencapai US$20 miliar.
Di balik proposal tersebut, bank investasi terbesar Amerika Serikat, JPMorgan Chase, berperan sebagai penasihat keuangannya. Dalam proposal yang disiapkan JPMorgan, FIFA berencana memisahkan pengelolaan hak komersial kompetisi-kompetisi utamanya ke dalam sebuah perusahaan baru.
Mengutip The Wall Street Journal, Presiden FIFA Gianni Infantino telah melakukan pembicaraan mengenai hal ini setidaknya sejak tahun lalu dengan Joshua Kushner, saudara laki-laki Jared Kushner, menantu Presiden Trump.
Rencana tersebut dirahasiakan selama berbulan-bulan dan mengejutkan para eksekutif ketika akhirnya bocor pada Selasa, yang langsung memicu reaksi keras.
FIFA sebelumnya mempertimbangkan untuk melakukan aksi korporasi itu menjelang penutupan Piala Dunia di New York, namun pada akhirnya memutuskan untuk menundanya. Hingga akhirnya, FIFA mengumumkan bahwa rencana tersebut telah dibatalkan pada Jumat malam.
Pemisahan entitas FIFA, harapannya akan memperlancar pengambilan keputusan, memprioritaskan kemitraan yang menguntungkan, menarik talenta berpengalaman, dan meningkatkan akses ke modal.
Dalam presentasi JPMorgan, kesepakatan itu diperkirakan akan menghasilkan jutaan dolar bagi para anggota FIFA, sehingga memungkinkan mereka untuk berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan.
Hal itu berpotensi membuka jalan bagi FIFA untuk memiliki 650.000 pemain antara tahun 2027 dan 2030 serta 450 kompetisi, termasuk untuk program wanita dan pemuda, yang keduanya lebih dari dua kali lipat jumlah saat ini.
Disebutkan pula bahwa FIFA selama ini kurang dimonetisasi dibandingkan dengan liga-liga olahraga lainnya. "Model ini telah sangat sukses di cabang olahraga lain," demikian tertulis dalam presentasi tersebut.
UEFA, yang mengelola sepak bola Eropa, dengan cepat menolak kesepakatan tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada tim nasional anggotanya yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA apa pun selama proposal-proposal ini masih berlaku.
Infantino telah lama berusaha untuk mendapatkan dukungan dari Trump. Ketika FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Trump, Infantino menulis dalam sebuah postingan di media sosial bahwa presiden tersebut telah melakukan tindakan luar biasa dan istimewa untuk mempromosikan perdamaian dan persatuan di seluruh dunia.
"Trump selalu dapat mengandalkan dukungan saya, dan dukungan seluruh komunitas sepak bola, untuk membantu mewujudkan perdamaian dan kemakmuran di seluruh dunia," tulisnya dikutip Senin (3/8/2026).
Minggu ini, Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa ia tidak membicarakan kesepakatan FIFA tersebut dengan Infantino.
Secara tertutup, para eksekutif bank pesaing dengan cepat menyatakan bahwa JPMorgan kembali terjebak dalam neraka sepak bola setelah bank tersebut meminta maaf atas keterlibatannya dalam Liga Super Eropa 2021 yang gagal total dalam waktu 48 jam.
Saat itu, JPMorgan menjanjikan pembiayaan sekitar US$4 miliar untuk mewujudkan Liga Super baru tersebut. Bank tersebut bekerja sama dengan 12 klub, termasuk Manchester United, Barcelona, dan Juventus.
"Kami jelas salah menilai bagaimana kesepakatan ini akan dipandang oleh komunitas sepak bola secara luas dan bagaimana hal itu mungkin berdampak pada mereka di masa depan," kata juru bicara bank tersebut saat itu.
"Kami akan belajar dari hal ini," sebutnya.
Di JPMorgan, pandangan yang berkembang adalah bahwa kesepakatan dengan FIFA berbeda dari Liga Super. Sebagian karena kesepakatan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah kompetisi.
Presentasi tersebut menyebutkan bahwa FIFA akan mempertahankan kendali tunggal dan wewenang eksklusif atas tata kelola, kompetisi, regulasi, dan keputusan olahraga dalam skenario apa pun di masa depan.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]