Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Rp17.980

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 15:05 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda pun mencatatkan penguatan selama dua hari perdagangan beruntun.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Senin (3/8/2026), rupiah ditutup terapresiasi 0,06% ke posisi Rp17.980/US$.


Penguatan rupiah menyusut dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi. Rupiah mengawali perdagangan dengan menguat 0,22% ke level Rp17.950/US$, kemudian melemah 30 poin hingga penutupan.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada rentang Rp17.950-Rp17.995/US$. Meski sempat mendekati kembali level psikologis Rp18.000/US$, rupiah berhasil bertahan di zona hijau.

Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif pada Jumat (31/7/2026), ketika rupiah ditutup menguat 0,47% ke posisi Rp17.990/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,12% ke posisi 99,793.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu penopang pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Greenback masih tertekan setelah Jepang dan AS melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang yen.

Intervensi tersebut mendorong penguatan yen dan membuat DXY kembali bergerak di bawah level 100. Sepanjang pekan lalu, indeks dolar AS telah merosot lebih dari 1,5%.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga tengah mencermati hasil pengumuman inflasi Juli 2026 dan neraca perdagangan Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan pada Juli 2026. Kondisi tersebut berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni.

Secara tahunan, inflasi melandai menjadi 2,88% pada Juli dari 3,34% pada bulan sebelumnya. Realisasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 0,11% secara bulanan dan 3,2% secara tahunan.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit. Padahal, nilai ekspor pada Juni tumbuh 8,8% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 5,73% pada Mei.

Kenaikan ekspor tersebut belum cukup membawa neraca perdagangan kembali ke dalam surplus. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.

Data inflasi dan neraca perdagangan akan menjadi bahan pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. BI juga akan tetap mencermati stabilitas rupiah, perkembangan ekonomi global, dan arus modal asing sebelum mengambil keputusan suku bunga.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS Tunda Serang Iran, IHSG Melemah Tapi Rupiah Sukses Menguat