COIN Rugi Rp39,2 Miliar di Semester I-2026, Kripto Sudah Tak Dilirik?

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 31/07/2026 13:56 WIB
Foto: Indokripto Koin Semesta. (Dok. Indokripto)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), induk usaha bursa aset kripto CFX dan lembaga kliring kripto ICC, membukukan rugi bersih sebesar Rp39,22 miliar pada semester I-2026. Kinerja ini berbalik arah dari periode yang sama tahun sebelumnya, saat perseroan masih mencetak laba bersih Rp25,52 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang dipublikasikan, kerugian tersebut sepenuhnya bersumber dari lini operasional. Pendapatan Grup pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp74,64 miliar, anjlok 34% dibandingkan Rp113,15 miliar pada semester I-2025.


Di sisi lain, beban umum dan administrasi justru melonjak 34% year-on-year menjadi Rp121,07 miliar dari sebelumnya Rp90,57 miliar. Kombinasi pendapatan yang menyusut dan beban yang membengkak membuat COIN mencatatkan rugi usaha sebesar Rp46,43 miliar, berbalik dari laba usaha Rp22,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski mengantongi pendapatan keuangan (bunga deposito dan jasa giro) sebesar Rp7,81 miliar, angka ini tidak cukup menutup defisit operasional. Alhasil, rugi sebelum pajak membengkak menjadi Rp38,47 miliar, dan setelah dikurangi beban pajak Rp754 juta, rugi bersih periode berjalan mencapai Rp39,22 miliar.

Dari rugi tersebut, porsi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp39,22 miliar, sementara kepentingan non-pengendali menanggung rugi tipis Rp4,5 juta. Rugi bersih per saham tercatat Rp(2,67), berbanding terbalik dengan laba per saham Rp2,04 pada semester I-2025.

Tekanan kinerja juga terlihat dari sisi arus kas. Kas dan setara kas Grup turun dari Rp366,60 miliar per akhir Desember 2025 menjadi Rp290,82 miliar per 30 Juni 2026. Arus kas dari aktivitas operasi bahkan tercatat negatif Rp71,35 miliar, berbalik dari posisi positif Rp71,18 miliar pada semester I-2025 - mengindikasikan penerimaan dari pelanggan yang melambat signifikan (Rp43,24 miliar vs Rp121,88 miliar) sementara pembayaran ke karyawan dan pemasok tetap tinggi.

Total aset Grup juga menyusut dari Rp1.602,51 miliar menjadi Rp1.530,73 miliar, sedangkan total ekuitas turun tipis dari Rp1.548,80 miliar menjadi Rp1.509,58 miliar.

Apa yang Menekan Kinerja COIN?

Berdasarkan Surat Edaran Bersama CFX dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI) No. 001/SEB/CFX-KKI/SPOT/II/2026, tarif transaksi aset kripto pasangan IDR (IDR Pairs) dipangkas signifikan: dari sebelumnya lebih tinggi menjadi hanya 2 bps sejak 1 Maret-30 September 2026, dan akan turun lagi menjadi 1 bps mulai 1 Oktober 2026. Tarif untuk pasangan Non-IDR juga dipangkas menjadi 4 bps lalu 2 bps. Pemangkasan ini konsisten dengan tren penurunan pendapatan jasa transaksi spot, yang anjlok dari Rp77,72 miliar menjadi Rp32,56 miliar - penurunan terbesar di antara seluruh lini pendapatan.

Sebagai kompensasi, pendapatan dari transaksi perpetual (kontrak berjangka) justru naik dari Rp16,56 miliar menjadi Rp23,53 miliar, namun kenaikan ini tidak cukup menutup penurunan tajam di segmen spot.

2. Beban gaji dan biaya digital melonjak, tidak sejalan dengan tren pendapatan

Beban gaji, upah, dan tunjangan naik dari Rp32,37 miliar menjadi Rp43,53 miliar (+34%), sementara beban digital dan komunikasi melonjak dari Rp19,96 miliar menjadi Rp30,69 miliar (+54%). Kenaikan biaya operasional yang agresif di tengah pendapatan yang justru menurun menjadi sorotan utama terhadap efisiensi biaya perseroan, khususnya karena beban ini sifatnya tetap (fixed cost) dan tidak otomatis menyesuaikan dengan volume transaksi bursa.

Beban amortisasi aset takberwujud (source code) yang konsisten sebesar Rp27,99 miliar setiap semester turut menjadi beban tetap yang signifikan terhadap laporan laba rugi, mengingat aset ini diamortisasi selama 20 tahun.

3. Volume transaksi pasar kripto domestik cenderung melambat

Penurunan pendapatan jasa transaksi spot mengindikasikan kemungkinan pelemahan aktivitas trading di bursa kripto CFX, yang bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar kripto global maupun domestik, sekaligus dampak langsung dari kompresi tarif yang disebutkan di atas. Jika volume transaksi tidak tumbuh untuk mengompensasi penurunan tarif, tekanan terhadap pendapatan berpotensi berlanjut pada semester II-2026 mengingat tarif IDR Pairs akan kembali dipangkas menjadi 1 bps mulai Oktober 2026.

4. Fondasi neraca masih relatif solid

Di tengah tekanan laba rugi, struktur permodalan COIN tergolong konservatif. Rasio liabilitas terhadap ekuitas (gearing ratio) tercatat negatif 0,18 kali, mengindikasikan posisi kas bersih (net cash position) - total liabilitas Grup hanya Rp21,15 miliar, jauh di bawah kas dan setara kas sebesar Rp290,82 miliar. Manajemen juga menyatakan tidak ada indikasi penurunan nilai (impairment) atas goodwill, aset takberwujud, maupun aset digital pada periode ini.

Grup juga masih menyimpan aset digital milik konsumen senilai Rp853,39 miliar dalam wallet kustodian ICC, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp398,83 miliar pada akhir 2025 - indikasi bahwa basis nasabah/aset yang dititipkan justru tumbuh, meski belum tentu berkorelasi langsung dengan pendapatan transaksi karena kompresi tarif.

5. Sinyal ke depan

Dengan tarif transaksi yang akan terus terkompresi menuju Oktober 2026, sementara beban tetap (gaji, amortisasi, biaya digital) sulit ditekan dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan mencermati apakah COIN mampu mendorong pertumbuhan volume transaksi dan diversifikasi pendapatan (seperti jasa IT dan cloud service yang baru muncul di semester ini senilai Rp2,94 miliar dan Rp0,98 miliar) untuk mengimbangi tekanan margin dari sisi tarif.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prabowo Bertemu Pengusaha Kadin Pusat & Daerah, Sampaikan Ini!