Penyebab Tiba-Tiba IHSG Anjlok 1,5%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hingga pertengahan sesi I perdagangan, Rabu (29/7/2026), di tengah pelemahan mayoritas sektor, terutama saham-saham properti dan utilitas, serta tekanan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Hingga pukul 10.15 WIB, IHSG turun 92,78 poin atau 1,51% ke level 6.037,81. Nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp14,41 triliun dengan volume perdagangan 20,72 miliar saham dalam 891 ribu kali transaksi. Sebanyak 573 saham melemah, 124 saham menguat, dan 268 saham bergerak stagnan.
Tekanan terbesar datang dari sektor properti dan utilitas, yang masing-masing ambles 4,88%. Pelemahan juga terjadi pada sektor bahan baku (-2,28%), konsumer siklikal (-2,18%), industri (-1,47%), energi (-1,39%), teknologi (-1,39%), keuangan (-0,91%), konsumer non-primer (-0,85%), serta kesehatan (-0,66%).
Dari sisi saham penggerak indeks, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi negatif 8,56 poin. Di belakangnya terdapat PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang memangkas indeks 8,30 poin, disusul PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 7,27 poin dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) sebesar 6,20 poin.
Tekanan juga datang dari PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turut menyeret laju indeks.
Di sisi lain, penguatan IHSG tertahan oleh kontribusi positif yang relatif terbatas dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Pelaku pasar juga masih mengambil posisi hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan dini hari nanti waktu Indonesia.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya, sehingga investor cenderung membatasi pengambilan risiko di pasar saham.
(mkh/mkh) Add
source on Google