Pasar Sorot Perry Warjiyo Mundur dari BI, IHSG Sesi 1 Ditutup Merah

mkh, CNBC Indonesia
Senin, 27/07/2026 12:21 WIB
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerakn dengan volatilitas tinggi sepanjang sesi 1 hari ini, Senin (27/7/2026).

Pada akhir sesi I, IHSG ditutup melemah 22,49 poin atau 0,36% ke level 6.173,94. Sepanjang sesi pertama, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.219,42 dan terendah 6.144,27.

Nilai transaksi mencapai Rp7,08 triliun dengan melibatkan 16,07 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,14 juta kali. Sebanyak 311 saham menguat, 332 saham melemah, dan 322 saham bergerak stagnan.


Dari sisi sektoral, hanya satu sektor yang menghijau, yakni konsumer non-primer yang naik 0,39%.

Sebaliknya, sektor utiltias menjadi pemberat utama setelah anjlok 1,71%, diikuti teknologi yang turun 0,79%, kesehatan 0,78%, properti 0,39%, serta energi dan finansial yang masing-masing melemah 0,22%.

Berdasarkan kontribusi terhadap indeks, penopang IHSG terbilang rapuh. DCI Indonesia (DCII) menjadi penopang terbesar IHSG dengan sumbangan 5,33 poin, disusul Bayan Resources (BYAN) sebesar 2,30 poin, VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) 1,74 poin, Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) 1,57 poin, dan Impack Pratama Industri (IMPC) 1,36 poin.

Sebagai informasi, DCII merupakan saham dengan volume yang sangat tipis. Sepanjang paruh pertama perdagangan, DCII hanya ditransaksikan sebanyak 7 lot. 

Sementara itu, penekan terbesar IHSG berasal dari Telkom Indonesia (TLKM) yang memangkas indeks 5,21 poin, diikuti Barito Renewables Energy (BREN) 3,49 poin, Mora Telematika Indonesia (MORA) 3,11 poin, Bank Mandiri (BMRI) 2,76 poin, serta Bank Central Asia (BBCA) 2,49 poin.

Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar di sektor telekomunikasi dan perbankan menjadi faktor utama yang membuat IHSG kembali berada di zona merah pada akhir sesi pertama.

VolatilitasIHSG hari ini seiring dengan kabar PerryWarjiyo mundur dari kursi gubernur Bank Indonesia. Pengunduran dirinya dilayangkan melalui surat kepada Presiden Prabowo Subianto setelah 7 tahun memimpin BI.

Atas pengunduran diri tersebut, Deputi Gubernur BI Destry Damayanti otomatis dipilih menjadi Gubernur BI sementara sesuai dengan aturan Undang-Undang Bank Indonesia.

Destry mengatakan pengunduran diri Perry Warjiyo dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi pada 25 Juli 2026.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, hal tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia karena terkait dengan independensi BI sebagai bank sentral Indonesia.

"Saya melihat hal ini bisa menjadi sentimen negatif buat pasar modal maupun rupiah. Secara hal ini bisa dianggap atau dikaitkan dengan independensi BI," ujarnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia, Senin (27/7/2026).

Sementara, Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan, meskipun secara teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melanjutkan koreksinya, pengunduran diri Perry Warjiyo akan mempengaruhi kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah.

"Pasar akan mengamati transisi ini dan kelanjutan kebijakan moneter ke depannya serta nilai tukar Rupiah," sebutnya.

Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, pengunduran diri Perry Warjiyo ini sebagai ujian terhadap independensi Bank Indonesia (BI) setelah P2SK, terutama setelah revisi terbaru pada 2026.

"Pengunduran diri Perry sendiri tentu belum bisa langsung dianggap sebagai bukti adanya intervensi. Tapi menurut saya, P2SK memang membuat pagar antara BI, pemerintah, dan DPR jadi jauh lebih tipis," sebutnya.

Menurutnya, secara de jure, BI masih merupakan lembaga independen. Undang-Undang tetap mengatakan bahwa BI harus bebas dari campur tangan pemerintah maupun pihak lain, dan BI juga punya kewajiban untuk menolak intervensi.

"Tapi yang perlu kita monitor sekarang adalah independensi secara de facto, atau bagaimana independensi itu benar-benar dijalankan dalam praktik," ucapnya.

Ia menambahkan, sejak P2SK, mandat BI jadi jauh lebih luas. BI tidak hanya diminta jaga stabilitas Rupiah, tetapi juga mendukung stabilitas sistem pembayaran, sistem keuangan, pertumbuhan sektor riil, bahkan penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, pelaku pasar pada perdagangan hari ini akan mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi menggerakkan pasar keuangan. Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah Iran menyatakan siap menghentikan serangan apabila Amerika Serikat juga menghentikan aksi militernya. Perkembangan tersebut mendorong harga minyak dunia turun tajam dan meningkatkan selera risiko (risk appetite) investor di pasar global.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tok! BI Tahan Level Suku Bunga Acuan di 5,75%