IHSG Ditutup Terkoreksi 1,88% ke Level 6.196

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 16:26 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7/2026), dengan pelemahan nyaris mencapai 2% di tengah derasnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).

Sentimen eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel serta kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus membayangi pergerakan pasar.


Hingga akhir perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok 117 poin atau 1,88% ke level 6.196,43. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 587 saham melemah, hanya 104 saham menguat, sementara 105 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi telah mencapai Rp 17,71 triliun dengan volume perdagangan 37,84 miliar saham dalam 2,25 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya tekanan jual sejak awal sesi.

Pelemahan IHSG didominasi oleh aksi jual pada saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan yang sehari sebelumnya juga menjadi sasaran jual investor asing.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan saham BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS dan BUMI menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, di tengah pelemahan indeks tersebut, investor asing turut membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp759,46 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.

Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I tercatat mencapai Rp6,54 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp2,89 triliun dan foreign sell Rp3,65 triliun.

Aksi jual asing terbesar terjadi pada saham perbankan pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dengan nilai mencapai Rp386,06 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang dilepas asing senilai Rp142,89 miliar, disusul PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) sebesar Rp123,37 miliar.

Selain itu, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual pada PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) sebesar Rp113,07 miliar, PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp55,68 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp43,90 miliar, serta PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp43,49 miliar.

Tekanan jual juga terlihat pada PT Timah Tbk. (TINS) sebesar Rp30,17 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Rp26,34 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp25,73 miliar.

Tekanan juga dipengaruhi sentimen global yang semakin memburuk. Presiden AS Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap prospek perdagangan global. Di saat bersamaan, konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melonjak hingga US$100,69 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global akan kembali menguat dan memperbesar peluang bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kombinasi tekanan eksternal dan berlanjutnya aksi jual pada saham-saham perbankan membuat pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sehingga IHSG menjadi salah satu indeks yang mengalami tekanan cukup dalam pada awal perdagangan hari ini.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus MI Keruk Cuan Investasi di Era Perang - Gejolak Rupiah