Ketimbang BI Rate Naik, Perry Sebut Insentif Lebih Efektif Jaga Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memandang peningkatan gelontoran berbagai insentif lebih efektif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan dengan cara menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara terus menerus.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan menaikkan insentif itu lebih efektif dalam menarik investasi asing, sehingga mampu menjaga pasokan dolar di dalam negeri. Langkah ini menurutnya lebih dapat mengendalikan dampak negatif dari suku bunga tinggi dalam negeri.
"Kami memutuskan tidak menaikkan BI rate, tapi meningkatkan insentif supaya semakin mendorong masuknya aliran portfolio asing. Ini yang kami putuskan hari ini. Dengan menaikkan insentif bagi portfolio asing, yang sekarang sudah ada, swap lindung nilai, yang sekarang 10%, kami tingkatkan menjadi 12,5%. Yang sekarang belum ada adalah insentif bagi Domestic Non Delivery Forward (DNDF), sekarang kita berikan insentif 15%," kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026).
Dengan kenaikan insentif tersebut, menurutnya dapat menarik lebih banyak investasi portfolio asing, sehingga dampaknya yakni nilai tukar lebih terkendali dan tentu saja tanpa memberikan dampak bagi kenaikan suku bunga di dalam negeri.
"Ini yang kami pilih, karena lebih efektif dari kenaikan BI Rate, di mana kenaikan insentif swap menjadi 12,5% dan pemberian insentif bagi DNDF menjadi 15% itu lebih efektif mengendalikan nilai tukar," lanjut Perry.
Selain itu, BI juga memperluas pemberian insentif bagi DNDF. Adapun DNDF merupakan salah satu cara BI melakukan diversifikasi pembayaran, perdagangan, dan investasi.
"DNDF adalah bagaimana diversifikasi pembayaran, perdagangan, dan investasi. Kita sudah banyak kemajuan dengan Jepang, China, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Dengan diversifikasi pembayaran, perdagangan, dan investasi, ini akan mengurangi teman permintaan terhadap dolar," terang Perry.
Berikutnya yakni pemanfaatan lebih dari penggunaan Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra. Hal ini diberikan untuk mendukung diversifikasi transaksi valas sekaligus mengurangi ketergantungan dolar AS.
"Kemudian kami juga lebih memanfaatkan LCT, baik dalam yen (Jepang), yuan (China), maupun mata uang lain, untuk memanfaatkan bagi pasar valas dalam negeri," ujar Perry.
(arj/arj) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]