IHSG Tak Bergeming Hari Ini, Bertahan di Level 6.000-an
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup nyaris tidak bergerak pada perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2026).
IHSG masih bergerak dengan volatilitas tinggi hari ini. Setelah melonjak 1,92% pada akhir perdagangan kemarin, IHSG sempat mengawali perdagangan di zona merah.
Pada perdagangan intraday, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.95,02, tetapi tidak mampu bertahan sebelum akhirnya memangkas penguatan dan kembali nyaris ke level perdagangan sebelumnya.
Nilai dan volume transaksi hari melonjak cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata perdagangan hari-hari sebelumnya. Nilai transaksi mencapai Rp15,36 triliun, melibatkan 26,48 miliar saham dalam 2,59 juta kali transaksi.
Pada pekan lalu rata-rata nilai transaksi harian hanya Rp 10,27 triliun. Volume transaksi tercatat 20,49 miliar saham.
Mengutip Refinitiv, pergerakan IHSG hari ini tertahan oleh koreksi emiten bank jumbo. Hal ini juga tercermin dari sektor finansial yang anjlok paling dalam, yakni 1,71%.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) kompak menjadi pemberat IHSG dengan bobot masing-masing -10,22 poin, -8,82 poin, dan -7,35 poin.
Sementara itu, emiten konglomerat, khususnya milik Bakrie dan Prajogo Pangestu mencoba mengatrol IHSG tetapi tidak kuat. Bumi Resources Mineral (BRMS) berkontribusi 6,7 poin, Barito Renewables Energy (BREN) 5,8 poin, dan Energi Mega Persada (ENRG) 5,23 poin.
Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin emiten bank jumbo mendorongIHSG melaju kencang pada akhir sesi. Hal itu seiring dengan pengumuman dari lembaga rating Standar & Poor's (S&P) yang mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.
S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil.
Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi pasar dan pemerintah. Pasalnya, sejak awal 2026 Indonesia beberapa kali mendapat tekanan dari lembaga pemeringkat global, setelah Moody's dan Fitch Ratings lebih dulu menurunkan prospek (outlook) Indonesia. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, keputusan S&P menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga.
Dalam laporannya, S&P menyatakan outlook stabil mencerminkan keyakinan bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih, ekspor membaik berkat kenaikan harga komoditas, serta disiplin menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB tetap menjadi jangkar kebijakan.
(mkh/mkh) Add
source on Google