4 Calon Emiten Antre IPO, 2 Diantaranya Perusahaan Besar

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 09:30 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga saat ini masih ada 4 perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Direktur Penilaian Perusahan BEI Saidu Solihin menyebutkan, 4 calon emiten tersebut bergerak material dasar, konsumer non kritikal, hingga sektor kesehatan.

"Hingga saat ini, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).

Adapun 4 calon emiten tersebut terdiri dari 2 perusahaan aset berskala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar, dan 2 perusahaan dengan aset berskala besar senilai di atas Rp 250 miliar.


Seperti diketahui, hingga 10 Juli 2026 telah tercatat 7 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai berlanjutnya aktivitas Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu indikator positif terjaganya kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal nasional.

Momentum IPO kali ini menjadi istimewa karena merupakan IPO kedua di Indonesia pada tahun 2026 yang berlangsung di tengah dinamika pasar saham yang cukup tinggi. Meski demikian, berlanjutnya aktivitas IPO turut mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek perekonomian nasional yang tetap terjaga.

Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61%, menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah dinamika ekonomi global. Kinerja positif tersebut didukung oleh konsumsi domestik yang tetap terjaga, meningkatnya aktivitas investasi, serta berbagai reformasi yang terus dilakukan Pemerintah untuk memperkuat iklim usaha.

"Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru, ini IPO pertama kali (sejak menjabat)," ujar Airlangga Hartarto di Gedung BEI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Salah satu sektor yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah industri makanan dan minuman. Pada triwulan I tahun 2026, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 7,31% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,20%.

Industri makanan dan minuman juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,04%, yang didorong oleh meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Dari sisi investasi, industri makanan dan minuman terus menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan I tahun 2026, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor tersebut mencapai Rp10,48 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp16,34 triliun.

Capaian tersebut mencerminkan tingginya minat investor terhadap sektor riil sekaligus menunjukkan bahwa pasar domestik Indonesia tetap bergairah, daya beli masyarakat terjaga, dan iklim investasi nasional berada pada jalur yang tepat.

Pemerintah juga terus melanjutkan reformasi di sektor pasar modal guna menjaga kepercayaan investor dan meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional. Keputusan lembaga penyedia indeks global MSCI yang kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market pada evaluasi Juni 2026 menjadi cerminan kuatnya fundamental ekonomi nasional sekaligus meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Berlanjutnya aktivitas IPO di pasar modal diharapkan semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Melalui dana yang dihimpun dari publik, perusahaan dapat mempercepat ekspansi usaha, meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi, serta membuka lebih banyak lapangan kerja, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia akan terus memperkuat reformasi pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, dan perlindungan investor. Langkah tersebut diharapkan semakin memperdalam pasar modal Indonesia, memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha, serta memperkuat kontribusi sektor keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bedah Strategi Emiten Alat Kesehatan IPO di Tengah Volatilitas