Harga Minyak Menguat ke US$72,48, Pasokan Jadi Ancaman
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (7/7/2026), meski kenaikannya masih terbatas. Pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke prospek pasokan yang semakin melimpah dan arah permintaan global.
Mengacu Refinitiv hingga pukul 10.00 WIB, harga minyak Brent berada di US$72,48 per barel, naik 0,68% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$71,99 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,67% ke US$69,01 per barel dari posisi US$68,55 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat kembali ke kisaran sebelum pecahnya konflik Iran beberapa waktu lalu. Dengan kata lain, premi risiko akibat konflik mulai memudar sehingga pasar kini kembali fokus pada keseimbangan fundamental.
Menurut Reuters, pemulihan produksi minyak di sejumlah negara produsen menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan harga. Di sisi lain, pelaku pasar masih berhati-hati karena hubungan Amerika Serikat dan Iran masih menyisakan ketidakpastian.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin kembali mengatakan negaranya akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan tugasnya", sembari mengulang ancaman aksi militer. Pernyataan tersebut muncul ketika Iran masih memperlihatkan sikap keras setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Meski demikian, perhatian pasar kini lebih banyak tertuju pada arus ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Dari sisi pasokan, Reuters memperkirakan produksi minyak Uni Emirat Arab telah melampaui 3,8 juta barel per hari pada Juni, menjadi level tertinggi sejak April 2020. Produksi tersebut bahkan sudah melampaui level sebelum konflik Iran, setelah negara itu keluar dari kuota produksi OPEC+ pada Mei lalu.
Di saat yang sama, OPEC+ pada Minggu menyepakati tambahan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Tambahan tersebut mengikuti peningkatan produksi yang telah dilakukan pada Juni dan Juli.
Tekanan dari sisi pasokan semakin besar setelah Saudi Aramco memangkas official selling price (OSP) minyak Arab Light untuk pengiriman Agustus ke pasar Asia menjadi US$1,50 per barel di bawah rata-rata Oman/Dubai. Penurunan tersebut mencapai US$11 dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi pemangkasan terbesar dalam lebih dari dua dekade.
Reuters menilai pasar kini telah banyak mengakomodasi kabar positif dari sisi pasokan. Pergerakan harga selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan permintaan riil, terutama dari China, yang selama ini menjadi importir minyak terbesar di dunia. Jika konsumsi di negara tersebut pulih lebih cepat, ruang penguatan harga minyak masih terbuka. Sebaliknya, permintaan yang melemah berpotensi membuat tekanan terhadap harga kembali muncul.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add
source on Google