Volatilitas Tinggi dan Pasar Masih Sepi, IHSG Sesi 1 Naik 0,84%

mkh, CNBC Indonesia
Rabu, 01/07/2026 12:35 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi 1 Rabu (1/6/2026) dengan kenaikan 47,39 poin atau 0,84% ke level 5.690,58. Sebanyak 376 saham naik, 270 turun, dan 313 stagnan. 

Pada perdagangan pertama bulan ini, pasar masih terbilang sepi. Nilai transaksi mencapai Rp 5,86 triliun dengan volume 9,89 miliar saham yang dilakukan dalam 876.700 kali transaksi. 

Volatilitas IHSG juga masih terbilang tinggi. Setelah sempat dibuka naik 1%, IHSG sempat mampir ke zona merah sebelum akhirnya melesat ke level tertinggi harian di 5.728,22. 


Mengutip Refinitiv, ada tiga sektor yang dominasi penguatan IHSG hari ini, yaitu bahan baku (3,52%), utilitas (2,17%), dan energi (1,31%). 

Bila dirinci, BBCA yang memantul dari level 5.500-an menjadi pengerek utama IHSG dengan bobot 11,71 poin. Sebagaimana diketahui, BBCA telah turun 11,26% dalam dua hari perdagangan sebelumnya. 

Selain itu, emiten Prajogo Pangestu, yaitu BRPT juga menjadi satu penopang IHSG secara signifikan. BRPT yang naik 10,12% hingga sesi 1 menyumbang 7,31 poin. Kemudian TLKM, BREN, AMMN, hingga MBMA juga masuk dalam daftar top movers siang ini. 

Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi pasar saham Indonesia saat ini perlu diperbaiki. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga saat ini masih terbelenggu di zona merah dan belum juga mampu bangkit untuk kembali ke zona hijau seperti bursa-bursa regional lainnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif Dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut, ada sesuatu yang tidak biasa di balik pelemahan bursa pasar modal Indonesia yang berkelanjutan belakangan ini.

"Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab," ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Sebagai informasi, IHSG sepanjang tahun berjalan telah turun 34,95% dan pada bulan lalu turun 7,9% secara bulanan. 

Adapun mengawali hari pertama di semester II-2026, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi banyak tantangan, baik dari faktor dalam ataupun luar negeri.

Dari global, Iran pada Selasa menegaskan tidak akan mengadakan pertemuan dengan utusan tinggi Amerika Serikat, sehingga prospek perdamaian jangka panjang kedua negara masih belum pasti. Teheran menyatakan fokus saat ini adalah menyelesaikan rincian gencatan senjata yang disepakati dua pekan lalu sebelum membahas isu yang lebih rumit, termasuk program nuklirnya.

Iran menegaskan tetap akan mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz bersama Oman dan berencana mulai mengenakan tarif pelayaran pada pertengahan Agustus setelah masa negosiasi 60 hari berakhir. Meski ketegangan masih tinggi, harga minyak terus melemah, namun PBB memperingatkan dampak perang masih berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan energi di negara-negara yang rentan. Kesepakatan sementara AS-Iran juga mencakup upaya mengakhiri konflik Israel-Hezbollah, tetapi implementasinya masih diragukan.

Kemudian pada hari Rabu, S&P Global dijadwalkan merilis data RatingDog China Manufacturing PMI. Sebagai rujukan, pada bulan Mei 2026, aktivitas manufaktur Tiongkok mencatatkan moderasi dengan indeks melandai ke level 51,8 dari rekor tertinggi lima tahun di posisi 52,2 pada bulan April.

Meski melandai, pencapaian ini masih berada di atas proyeksi pasar sebesar 51,4. Pertumbuhan pesanan baru dan output termoderasi namun tetap solid, ditopang secara masif oleh permintaan domestik.

Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit US$ 1,61 miliar. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu.

Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar US$ 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI US$ 23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah.

Berdasarkan catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16% jika dibandingkan Mei 2025. BPS mencatat impor migas sebesar US$ 4,51 miliar meningkat 70,78% secara tahunan atau year on year/yoy. Impor nonmigas US$ 20,30 miliar atau naik 14,69%. Impor tahunan didorong impor non-migas dengan andil 12,95%.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah & IHSG Anjlok Lebih 2%, Sentimen Ini Jadi Sebab!