Breaking News! Dolar AS Kembali Dekati Rp18.000

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 01/07/2026 09:04 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki bulan baru, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026).

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda harus mengawali perdagangan pertama pada Juli 2026 di zona merah. Rupiah dibuka melemah 0,42% ke level Rp17.950/US$. Sekaligus mendekati level psikologis Rp18.000/US$.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Selasa (30/6/2026), rupiah juga ditutup melemah 0,22% ke posisi Rp17.875/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,11% ke level 101,293.

Tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan hari ini terjadi di tengah dolar AS yang masih menunjukkan tenaga di pasar global.

Dolar AS cenderung bertahan kuat seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Ekspektasi tersebut ikut ditopang oleh data lowongan kerja AS yang masih solid dan menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data U.S. Bureau of Labor Statistics, jumlah lowongan kerja pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, serta berada di atas data April yang direvisi menjadi 7,585 juta.

Data tenaga kerja yang masih kuat membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan The Fed. Setelah menahan suku bunga pada rapat Juni di kisaran 3,50%-3,75%, sejumlah pejabat The Fed masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 33,70%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 66,30%.

Meski demikian, penguatan dolar AS masih tertahan oleh meredanya kekhawatiran pasokan minyak global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan meningkat, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mulai berkurang. Kondisi ini ikut menahan tekanan inflasi berbasis energi.

Dari dalam negeri, pasar kini menanti rilis data inflasi Juni 2026 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) siang nanti.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,30% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Juni 2026.

Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,2%.

Sebagai catatan, pada Mei 2026 Indonesia mencatat inflasi 0,28% secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 3,08% dan inflasi inti berada di level 2,59%.

Data inflasi ini akan menjadi salah satu acuan penting bagi Bank Indonesia (BI) dalam merumuskan arah kebijakan moneter, termasuk dalam pengambilan keputusan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan