MARKET DATA

Rugi Indofarma (INAF) Susut 69,8%, tapi Masa Kritis Belum Lewat

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
29 June 2026 10:55
Dok.Indofarma
Foto: Indofarma

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal I-2026. Perseroan berhasil memangkas rugi bersih hingga 69,8% secara tahunan (year-on-year/yoy), meski kondisi keuangannya masih belum sepenuhnya pulih.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp7,58 miliar pada kuartal I-2026, turun dari Rp25,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan bersih sebesar 45,1% menjadi Rp53,33 miliar, dibandingkan Rp36,76 miliar pada kuartal I-2025.

Di sisi biaya, beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp48,58 miliar dari Rp42,37 miliar. Namun, pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi membuat Indofarma berhasil membalikkan kondisi laba kotor menjadi positif sebesar Rp4,75 miliar, setelah pada kuartal I-2025 masih membukukan rugi bruto Rp5,60 miliar.

Efisiensi juga terlihat dari beban operasional. Beban penjualan anjlok menjadi Rp353,1 juta dari Rp3,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, beban umum dan administrasi turun 48,4% menjadi Rp6,55 miliar dari Rp12,71 miliar.

Di sisi lain, rugi dari pos lain-lain juga menyusut menjadi Rp1,02 miliar dibandingkan Rp3,24 miliar pada kuartal I-2025.

Serangkaian perbaikan tersebut membuat rugi usaha turun tajam menjadi Rp3,18 miliar dari Rp25,44 miliar pada kuartal I tahun lalu.

Meski demikian, perseroan mulai mencatat beban keuangan sebesar Rp4,42 miliar pada kuartal I-2026. Beban bunga tersebut ikut menekan kinerja sehingga rugi sebelum pajak masih tercatat Rp7,60 miliar. Kendati demikian, angka tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan rugi sebelum pajak sebesar Rp25,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Walaupun kinerja operasional mulai membaik, kondisi neraca Indofarma masih menunjukkan tantangan besar. Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan turun menjadi Rp489,67 miliar dari Rp535,99 miliar pada akhir 2025.

Sementara itu, total liabilitas masih mencapai Rp1,20 triliun, jauh lebih besar dibandingkan total aset. Kondisi tersebut membuat perseroan masih membukukan defisiensi ekuitas sebesar Rp714,52 miliar.

Selain itu, utang pajak Indofarma juga masih tercatat tinggi, yakni mencapai Rp318,25 miliar hingga akhir kuartal I-2026.

Meski demikian, terdapat satu sinyal positif lain dari sisi likuiditas. Arus kas dari aktivitas operasi berbalik positif menjadi Rp6,23 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan arus kas operasi negatif Rp18,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Laba Bumi Resources (BUMI) Naik 35% Jadi US$24,14 Juta


Most Popular
Features