Anak Buah Purbaya Pastikan Meski Rupiah Melemah, APBN Masih Aman
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup aman meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami pelemahan.
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Herman Saheruddin mengatakan APBN 2026 masih cukup terjaga meski pelemahan rupiah masih terjadi.
"Kalau untuk nilai tukar rupiah, so far, dari asesmen Pak Menteri (Purbaya Yudhi Sadewa) yang disampaikan juga pada APBN Kita yang lalu, tampaknya buat APBN masih bisa kita manage gitu," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (25/6/2026).
Pihaknya mengakui dampak dari kenaikan harga minyak global efek dari perang di Timur Tengah membebani APBN karena harus mensubsidi BBM Pertalite. Namun, Herman mengungkapkan APBN masih dalam batas aman.
"Jadi kalau nilai tukar rupiah seperti disampaikan oleh Pak Menteri Keuangan, yang dampaknya signifikan buat APBN itu adalah harga minyak, karena kita banyak ada subsidi di situ kan, makanya sampai sekarang pun harga Pertalite enggak naik. Tapi, APBN masih ter-manage dengan baik, cara salah satunya yakni efisiensi, dengan merealokasi anggaran sesuai prioritasnya," lanjut Herman.
Selain itu, adanya efek saling menyeimbangkan pada nilai tukar rupiah turut membantu mengurangi beban APBN.
"Pelemahan rupiah ada efek saling menyeimbangkan atau cancel out. Memang secara netto berdampak pada APBN. Tapi dari hitung-hitungan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi Fiskal (DJSEF), masih bisa manageable sampai sekarang," terang Herman.
Oleh karena itu, Menkeu Purbaya optimis hingga akhir 2026, defisit APBN bisa terjaga di 3%.
"Pak Menteri (Purbaya) menyampaikan bahwa beliau confident sampai akhir tahun, kita bisa jaga defisit di bawah 3%. Kita berharap bersama-sama konflik di Timur Tengah, paling tidak sudah akan segera berakhirlah. Sehingga normalisasi harga minyak secara global itu bisa terjadi," jelasnya.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar Rp 180,4 triliun per Mei 2026.
Hal ini ditopang keberhasilan upaya mendorong peningkatan pajak yang tumbuh 22,1% (yoy) seiring dengan keberhasilan reformasi perpajakan dan reorganisasi pegawai pajak.
"Artinya kira-kira dengan angka yang sekarang defisit, APBN kita masih amat terjaga. Keberhasilannya adalah utamanya kita bisa meningkatkan pendapatan pajak secara signifikan. Jadi kalau dibanding tahun lalu 5 bulan pertama pajak kita tumbuh 22,1%. itu pertumbuhan yang amat signifikan," ungkap dia dalam dalam Economic Update CNBC Indonesia Rabu (24/6/2026).
Sejalan dengan capaian pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 sebesar 5,61% (yoy), Purbaya menyebutkan sumber pertumbuhan ekonomi nasional berjalan baik. Termasuk melalui program unggulan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta sektor swasta yang berhasil didorong oleh pemerintahan Prabowo.
"Kontribusi pemerintah belanja pemerintah ke ekonomi ke ekonomi hanya 7,7%an. Sisanya private sektor," kata Purbaya.
Dengan kata lain, ketika sektor swasta tidak menampakkan pergerakan, ekonomi nasional tak akan tumbuh sebesar 5,61% pada Triwulan I-2026.
"Jadi ini menunjukkan bahwa strategi Bapak Presiden untuk membangun perekonomian di pemerintah dan di sektor swasta itu berjalan dengan baik. Itu yang sering dilupakan oleh banyak orang," tambah Purbaya.
Purbaya juga menegaskan daya beli masyarakat menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari data konsumsi hingga penjualan otomotif sehingga ekonomi RI masih ekspansi dan jauh dari kesan RI menuju krisis seperti 1998.Selain itu stimulus pemerintah seperti Gaji Ke-13 Aparatur Sipil Negara dan Pensiunan juga berhasil menopang ekonomi nasional.
"Jadi jauh dari kesan bahwa seolah-olah kita sedang menuju krisis 1998 lagi. kita masih ekspansi ekonominya mungkin di atas 5 di atas 5,4% mungkin atau lebih. Kita coba lihat karena datanya belum keluar," tegas Purbaya.
(chd/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]