4 Hari Keok, Rupiah Akhirnya Menguat Lawan Dolar AS

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Kamis, 25/06/2026 15:10 WIB
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil membalikkan posisi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026) sore ini.

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.915/US$ atau menguat tipis 0,06%. Penguatan ini menjadi kabar positif setelah dalam empat perdagangan sebelumnya rupiah konsisten mengakhiri perdagangan di zona merah.


Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sejatinya sempat dibuka melemah pada pagi tadi. Namun, seiring berjalannya waktu, mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan hingga akhirnya ditutup menguat.

Rupiah pun bergerak di rentang Rp17.910-Rp17.970/US$ sepanjang perdagangan hari ini.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke level 101,581.

Rupiah berhasil menguat di tengah posisi dolar AS yang masih cukup dominan di pasar global. Meski DXY melemah tipis pada sore ini, posisi indeks dolar AS masih berada di level yang tinggi.

Dolar AS sebelumnya sempat menembus level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Pada Rabu (24/6/2026), DXY menyentuh level 101,8 seiring ekspektasi pasar terhadap ekonomi AS yang masih kuat dan potensi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Kuatnya dolar AS membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, cenderung terbatas. Namun, pelemahan tipis DXY pada sore ini memberi ruang bagi rupiah untuk berbalik menguat setelah empat hari beruntun tertekan.

Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni Personal Consumption Expenditures Price Index atau PCE. Data ini menjadi perhatian karena merupakan salah satu indikator inflasi utama yang dicermati The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) masih terus berupaya menstabilkan rupiah sembari mendukung langkah pemerintah menjaga ekonomi Indonesia agar tetap tumbuh kuat. BI juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kestabilan rupiah dengan menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama di dalam negeri.

Hal ini disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026.

"Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri, tentu saya juga ingin mengajak semua masyarakat, semua bangsa Indonesia untuk kita bersama-sama menjaga rupiah," kata Destry, dikutip Kamis (25/6/2026).

Untuk menjaga stabilitas kurs, BI telah mengeluarkan sejumlah kebijakan baru. Salah satunya adalah menurunkan ambang batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung atau underlying menjadi maksimal US$10.000 per pelaku per bulan.

Namun, Destry menegaskan kebijakan tersebut dilakukan untuk memperbaiki tata kelola, bukan untuk melarang penggunaan dolar AS di dalam negeri.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan