Rupiah Tertekan Lawan Dolar, Bos BI Beri Pesan Ini Buat Warga RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan rupiah, sembari mendukung langkah pemerintah menjaga ekonomi Indonesia agar tetap tumbuh kuat.
BI turut mengajak masyarakat untuk menjaga kestabilan rupiah dengan menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026.
"Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri, tentu saya juga ingin mengajak semua masyarakat, semua bangsa Indonesia untuk kita bersama-sama menjaga rupiah," kata Destry, dikutip Rabu (24/6/2026).
Untuk menjaga stabilitas kurs, BI sebetulnya telah mengeluarkan berbagai kebijakan baru0baru ini salah satunya yakni membatasi penukaran dolar Amerika Serikat (AS) maksimal US$10.000.
Namun, pembatasan tersebut dilakukan untuk memperbaiki tata kelola, bukan untuk melarang penggunaan dolar AS di dalam negeri.
"Bagaimana kami menata ulang permintaan terhadap rupiah. Kami tidak bermaksud untuk membatasi penggunaan dolar AS, tapi harus ada underlyingnya, kalau tidak ada underlyingnya, itu nanti kan menjadi spekulatif," jelasnya.
Destry juga mengajak masyarakat untuk terus menggunakan rupiah di dalam negeri, sebagai dukungan untuk menstabilkan mata uang Garuda.
"Jadi kami memperbaiki tata kelola yang ada untuk yang ritel dan sebagainya, bahwa ayo kalau gak ada kebutuhan dolar AS, ya kita pakai rupiah. Kan kita di domestik bayar apapun juga pakai rupiah," imbuhnya.
"Saya ingin mengimbau teman-teman semua, tugas menjaga rupiah itu adalah tugas kita bersama," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, tekanan terhadap rupiah belum juga mereda sepanjang hari ini.
Mata uang Garuda kembali mengawali perdagangan Rabu (24/6/2026) di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah dinamika pergerakan dolar AS di pasar global yang makin kuat.
Merujuk data Refinitiv, rupiah Garuda dibuka di posisi Rp17.900/US$ atau melemah 0,36%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (23/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,06% ke level Rp17.835/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke level 101,432. Level ini sekaligus menjadi posisi terkuat indeks dolar dalam 13 bulan terakhir.
Penguatan tersebut juga melanjutkan kenaikan pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika DXY menguat tajam 0,38%.
(arj/arj) Add
source on Google