SRBI Sedot Rp105 Triliun Dana Asing, Efek BI Rate Bekerja!

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 24/06/2026 12:05 WIB
Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Bank Indonesia (BI) dalam menarik investor asing menaruh modalnya di Indonesia telah menunjukkan hasilnya.

Deputi Gubernur Senior BI mengungkapkan bahwa aliran modal asing masuk mulai membanjiri instrumen keuangan Indonesia melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga NEgara (SBN).


"Sampai Juni ini, kita sudah melihat inflow masuk, apakah itu di SBN sudah mulai masuk per Juni ini net inflownya. Kemudian di SRBI sendiri, yaitu sertifikat Rupiah Bank Indonesia yang kami issue itu, itu sudah di atas 103 triliun masuk, sekitar Rp103-105 triliun itu di posisi bulan Juni," ujar Destry kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (23/6/2026).

Investor dunia saat ini memilih instrumen yang lebih aman seperti dolar Amerika Serikat di tengah kondisi ekonomi dunia yang diperkirakan melambat akibat perang di Timur Tengah.

Fenomena yang disebut dengan fly to quality tersebut menyebabkan aliran dana asing di negara emerging market menguap, termasuk di Indonesia.

"Kita menghadapi situasi di mana fly to quality itu akan terjadi ke US dollar capital outflow juga akan terjadi dan itu sudah kita alami," ujar Destry.

Perang antara AS dan Israel dengan Iran ditutupnya selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, buntut perang di Timur Tengah. Akibatnya harga minyak mentah dunia melonjak hingga tembus US$100 per barel dan inflasi dunia diperkirakan akan meningkat.

Lebih jauh, dampak dari kejadian tersebut adalah suku bunga yang akan tinggi di global, yield dari instrumen obligasi mereka akan tinggi, dan juga akan menghadapi tekanan inflasi yang tinggi.

Akibatnya investor beralih kepada instrumen yang mereka anggap aman seperti menyimpan kas di negara maju seperti Amerika Serikat dalam bentuk dolar.

Sehingga mendorong dolar AS menguat yang tercermin dari indeks DXY, dolar indeks terhadap mata uang utama negara lain, terus mengalami peningkatan, bahkan terakhir sudah di atas 100 lebih.

Akibatnya adalah melemahnya mata uang di berbagai negara di dunia, termasuk dengan rupiah di Indonesia.

BI sendiri, kata Destry, sudah merespon hal tersebut dengan memberikan yield yang menarik ditambah lagi juga tentunya dengan insentif diberikan kepada investor yang mau masuk ke Indonesia, khususnya terkait dengan portofolio investment.

"Kebijakan yang kami lakukan dengan menaikkan suku bunga itu sebenarnya adalah satu memang itu untuk arah kita adalah bagaimana menjaga stabilitas dari rupiah dalam hal ini adalah nilai tukar rupiah," ujar Destry.

Bank Indonesia berharap dengan suku bunga yang meningkat, itu akan meningkatkan daya tarik dari instrumen rupiah bagi investor asing.

Pasalnya investor asing melihat dalam situasi seperti ini persepsi risiko, risk premium itu akan meningkat.

"Oleh karena itu, mereka kalau mau investasi di negara tersebut, mereka pasti akan minta earnings yang lebih baik, return yang lebih baik. Ini kita cerminkan di suku bunga yang meningkat, sehingga kita berharap inflow itu akan masuk."

Berdasarkan data BI, per 17 Juni 2026 bunga SRBI untuk tenor 6 bulan adalah 7,12%-8,00%, tenor 9 bulan sebesar 7,33%-8,10%, dan tenor 12 bulan sebesar 7,39%-8,25%.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Mendadak BI Gelar RDG, Naikkan Suku Bunga 25 Bps Jadi 5,50%