BI Rate Naik, Bankir Ramai-Ramai Rombak RBB & Bunga Kredit
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank-bank kompak melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB), menyikapi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang agresif dan kondisi makroekonomi terkini.
Seperti diketahui, BI telah meningkatkan suku bunga 50 bps pada RDG bulan Mei, dan secara mengejutkan naik 25 bps lagi pada rapat mingguan pekan lalu. Dalam RDG bulan Juni, bank sentral RI itu kembali mengerek sebesar 25 bps, lantas menjadi BI Rate menjadi 5,75%.
Para bankir pun menyampaikan bahwa mereka akan melakukan penyesuaian suku bunga acuan terhadap suku bunga kredit. Hal ini dilakukan guna menjaga profitabilitas dan beban pendanaan alias cost of fund (CoF).
Presiden Direktur CIMB Niaga (BNGA), Lani Darmawan mengakui bahwa pihaknya akan melakukan revisi RBB ke bawah, namun tidak terlalu signifikan. Ia mengatakan revisi terutama dilakukan atas target penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), dalam rangka menjaga likuiditas.
"[Target pertumbuhan DPK] direvisi ke bawah. Mengingat CoF pasti naik dan menyesuaikan dengan pertumbuhan kredit. Namun tidak significant," ungkap Lani kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Mengenai suku bunga kredit di bank swasta terbesar kedua RI itu, Lani mengatakan penyesuaian akan dilakukan dilakukan secara fleksibel.
Sementara itu, ia mengakui akan ada tantangan dalam menjaga profitabilitas, yang tercermin dari rasio margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
"NIM menjadi semakin menantang. Kami perkirakan akan tergerus ke sekitar 3,8 persenan," tutur Lani.
Bank Sahabat Sampoerna (BSS) juga melakukan revisi RBB. Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis BSS, Henky Suryaputra mengatakan hal itu dilakukan berdasarkan hasil stress testing. Ia menekankan bahwa pihaknya mementingkan pertumbuhan yang berkualitas ketimbang pertumbuhan tinggi semata.
"Kami melakukan penyesuaian minor secara internal untuk memastikan likuiditas dan permodalan tetap kuat. Fokus kami di Bank Sampoerna bukan sekadar mengejar pertumbuhan agresif (growth), melainkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan (sustainable growth)," terang Henky kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan pasti memberikan tekanan beban pendanaan. Henky menyebut BSS tidak bisa serta-merta membebankan seluruh kenaikan CoF ini kepada debitur, terutama karena fokus utama bank itu adalah UMKM. Maka dari itu, NIM bank itu berpotensi tergerus.
"Jika suku bunga kredit dinaikkan terlalu agresif, hal itu justru berisiko meningkatkan NPL (Non-Performing Loan). Oleh karena itu, kompresi NIM yang terukur mungkin saja terjadi, namun tetap dijaga dalam batas yang sehat," ujar Henky.
Untuk menekan CoF dan biaya operasional, BSS berupaya meningkatkan porsi dana murah (CASA) agar ketergantungan pada dana mahal dapat dikurangi. Sementara penyesuaian suku bunga akan dilakukan secara selektif.
"Penyesuaian suku bunga kredit juga akan dilakukan secara selektif dan kasuistik, tergantung pada profil risiko masing-masing sektor usaha debitur. Kami berkomitmen untuk tetap menjadi mitra yang mendukung keberlangsungan bisnis UMKM di Indonesia, bukan justru memberatkan mereka," tegas Henky.
Senada, Bank Oke Indonesia (DNAR) alias OK Bank juga melakukan revisi RBB. Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah menekankan bahwa revisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan BI Rate, melainkan juga mempertimbangkan aspek-aspek lain terkait perkembangan kondisi makroekonomi, dinamika industri perbankan, evaluasi terhadap kinerja dan perkembangan peluang bisnis.
"Terkait strategi kami berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana dan profitabilitas yang optimal," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Bank INA Perdana (BINA) juga memutuskan untuk menyesuaikan bunga kredit. Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi mengatakan bank milik Grup Salim itu juga berupaya menjaga NIM di level 3,5%-4%.
"Mengingat kenaikan BI rate yang cukup besar maka kita sedang dalam proses menyesuaikan bunga kredit," papar Yulius kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Tak terkecuali, bank swasta terbesar RI, Bank Central Asia (BBCA) juga mencermati perkembangan suku bunga acuan serta keadaan ekonomi. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menegaskan bahwa biaya pendanaan di BCA relatif terjaga sehubungan dengan pertumbuhan tinggi dana murah (CASA).
"Per Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% YoY. Alhasil, porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK. Strategi ini diharapkan dapat mendukung stabilitas CoF secara prudent," beber Hera kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Oleh karena itu, BCA berkomitmen menyalurkan kredit yang berkualitas ke berbagai segmen dan sektor secara pruden. Meski demikian, bank itu menyatakan akan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko disiplin.
(fsd/fsd) Add
source on Google