Ada Sentimen Penting dari Wall Street, Begini Pergerakan Bursa Asia

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Rabu, 24/06/2026 08:40 WIB
Foto: Kantor pusat KEB Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 23 Juli 2020. (AP/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka bergerak beragam pada perdagangan Rabu (24/6/2026), di tengah upaya investor menilai apakah rebound saham teknologi mampu menstabilkan sentimen pasar setelah aksi jual besar-besaran di Wall Street yang menyeret pasar regional sehari sebelumnya.

Melansir CNBC, pelaku pasar masih mencermati tekanan yang terjadi pada sektor teknologi global, terutama setelah saham-saham terkait semikonduktor mengalami koreksi tajam. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa reli berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi tantangan fundamental selain faktor teknikal.


Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,2% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 2% setelah sehari sebelumnya anjlok sekitar 10%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak mendatar atau cenderung stagnan. Adapun kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 23.498, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 23.336,28.

Tekanan di pasar dipicu aksi jual pada saham-saham yang memiliki keterkaitan dengan industri semikonduktor. VanEck Semiconductor ETF (SMH) ditutup merosot 7% pada perdagangan Selasa, sementara saham Intel turun 6% dan Qualcomm terkoreksi 8%.

Di sisi lain, investor mulai melakukan rotasi ke saham-saham defensif yang dinilai lebih aman saat volatilitas meningkat. Saham Walmart naik hampir 2%, sedangkan IBM menguat sekitar 5%.

Kepala Riset dan Strategi Morgan Stanley Wealth Management, Dan Skelly, mengatakan kekhawatiran pasar tidak hanya berasal dari kondisi teknikal yang mulai jenuh. Menurutnya, sejumlah risiko fundamental mulai muncul dan berpotensi membebani valuasi saham teknologi.

Ia menyoroti meningkatnya persaingan harga di antara pengembang model AI serta mulai turunnya tarif sewa GPU generasi lama. Selain itu, perubahan arah strategi Microsoft yang kini lebih fokus pada model AI berbiaya rendah juga menjadi perhatian investor.

Pasar juga menantikan laporan keuangan Micron yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu waktu setempat. Berdasarkan survei FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan mencapai US$ 20,83 per saham dengan pendapatan sebesar US$ 35,75 miliar.

Saham Micron sendiri telah mencatat kenaikan luar biasa sepanjang 2026 dan sempat menyentuh rekor tertinggi baru pada Senin. Namun, Kepala Strategi Pasar Freedom Capital Markets, Jay Woods, memperingatkan saham tersebut berpotensi terkoreksi usai laporan keuangan dirilis.

Menurut Woods, harga saham Micron dapat turun hingga ke level US$ 1.000 per saham. Meski terlihat sebagai koreksi yang besar, pergerakan tersebut dinilai masih sejalan dengan tren teknikal dan rata-rata pergerakan 20 hari saham tersebut.

Selain laporan Micron, investor juga akan mencermati kinerja Paychex yang dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan pasar. Data ekonomi Amerika Serikat berupa izin mendirikan bangunan (building permits) dan penjualan rumah baru periode Mei juga akan menjadi fokus pasar untuk mengukur kondisi perekonomian terbaru.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RANS Entertainment Siap Go Public!