Harga Pertamax Naik, BI Ramal Bakal Pengaruhi Inflasi 0,25%
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti potensi tekanan inflasi di Indonesia akan semakin tinggi. Selain karena adanya gangguan pasokan dari global, risiko tekanan inflasi yang meninggi juga akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Ramalan risiko inilah yang membuat BI harus menaikkan suku bunga acuan lagi pada bulan ini sebesar 25 basis points, menjadi 5,75%. Sehingga total sudah terjadi kenaikan dua kali BI rate pada Juni 2026.
"Itu sebagai salah satu pertimbangan kita kenaikan BI rate, yaitu sebagai langkah forward looking, pre-emptive untuk memastikan inflasi dalam dua tahun ke depan 2026-2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers secara daring, Kamis (18/6/2026).
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan, risiko inflasi secara global yang akan mencuat ialah harga-harga minyak dan komoditas yang tengah bergejolak, sehingga menyebabkan potensi imported inflation di dalam negeri.
"Dan menjadi perhatian adalah tentunya tentang rambatan global, yaitu harga-harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau kita sebut dengan imported inflation, dan yang kedua ini belum terjadi tapi kita baru alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca," tegas Aida.
Dari dalam negeri, tekanan inflasi menurutnya akan terjadi setelah pemerintah menaikkan harga-harga BBM non subsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, meski ada yang juga tengah mengalami penurunan yaitu Dexlite dan Pertamina Dex.
Kontribusi dari kenaikan harga BBM yang tergolong ke dalam harga yang diatur pemerintah atau administered price ini terhadap inflasi kata Aida akan mencapai 0,25%.
"Tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25% kepada inflasi," ujarnya.
Selanjutnya, tekanan inflasi menurutnya juga akan tercakup ke dalam golongan harga pangan harga bergejolak atau volatile food, termasuk harga pupuk. Namun, Aida menekankan, dampak tekanan harga di kelompok volatile food sangat minimal terhadap inflasi karena produksi pupuk di dalam negeri masih mampu mengimbangi permintaan.
"Sementara nanti El Nino mungkin sekitar akhir Juni sampai Oktober atau November, tetapi berbagai macam koordinasi juga sudah dilakukan, termasuk persiapan di daerah," tegas Aida.
Dengan berbagai pertimbangan risiko tekanan inflasi itu, Aida mengatakan, secara keseluruhan kenaikan inflasi ke depannya masih akan bergerak di kisaran target pemerintah 2,5% plus minus 1% dengan perkiraan tertinggi ialah di level 3,5%.
"Memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5% plus minus 1%, jadi paling tinggi kita 3,5% ini masih dalam target tersebut," ujar Aida.
(arj/arj) Add
source on Google