Harga Minyak Turun Terus!
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.40 WIB, harga minyak Brent berada di US$78,28 per barel, turun 1,6% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$79,55 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$75,42 per barel, melemah 1,8% dari posisi sehari sebelumnya di US$76,79 per barel.
Tekanan jual yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat harga minyak terkoreksi cukup dalam. Sejak 12 Juni lalu, Brent telah turun lebih dari 10%, sedangkan WTI anjlok sekitar 11%. Padahal pada awal Juni harga Brent sempat menyentuh US$97,81 per barel dan WTI mencapai US$96,02 per barel. Dalam kurun waktu sekitar dua pekan, Brent telah kehilangan hampir US$20 per barel, sementara WTI terkoreksi lebih dari US$20 per barel.
Pelemahan harga dipicu oleh kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka jalan berakhirnya perang Iran serta pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia karena menjadi penghubung utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.
Dalam nota kesepahaman yang disepakati kedua negara, Iran akan mengizinkan kembali lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tanpa hambatan selama periode negosiasi 60 hari.
Kesepakatan itu juga membuka peluang pencabutan sanksi minyak terhadap Iran sehingga pasokan minyak negara tersebut berpotensi kembali masuk ke pasar internasional lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Pasar menilai kembalinya ekspor Iran dan normalisasi arus pengiriman di Selat Hormuz akan mengurangi risiko gangguan pasokan global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi faktor utama pengerek harga minyak.
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan pelaku pasar kini agresif memperhitungkan potensi masuknya kembali barel minyak Iran ke pasar global dalam waktu dekat.
Prospek bertambahnya pasokan juga diperkuat oleh proyeksi Badan Energi Internasional (IEA). Dalam laporan bulanannya, IEA memperingatkan bahwa krisis pasokan yang terjadi tahun ini dapat berubah menjadi kelebihan pasokan yang besar pada 2027 apabila produksi Timur Tengah kembali pulih. IEA memperkirakan pasokan minyak global tahun depan dapat melampaui permintaan hingga 5,05 juta barel per hari.
Meski demikian, pasar masih mencermati implementasi kesepakatan tersebut. Sehari sebelumnya, harga minyak sempat mencoba bangkit setelah investor menilai masih terdapat ketidakpastian mengenai keberlangsungan perdamaian serta proses pembukaan kembali Selat Hormuz. Israel juga belum sepenuhnya mendukung kesepakatan terbaru antara Washington dan Teheran sehingga risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari pasar energi.
Dari sisi fundamental, data industri memperlihatkan stok minyak mentah Amerika Serikat turun 8,3 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni, jauh lebih besar dibanding ekspektasi penurunan 4,6 juta barel. Namun sentimen tersebut gagal mengangkat harga karena perhatian pasar lebih tertuju pada potensi lonjakan pasokan dari Timur Tengah.
Permintaan minyak global juga menghadapi tantangan baru. Data terbaru memperlihatkan aktivitas pengolahan minyak di China pada Mei turun 9,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan berada di level terendah dalam hampir empat tahun. Di saat yang sama, bank sentral Amerika Serikat mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga kembali tahun ini guna meredam inflasi. Jika kebijakan moneter semakin ketat, aktivitas ekonomi berisiko melambat dan konsumsi energi dapat ikut tertekan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb) Add
source on Google